Sore Hari, Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.162 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 16:39 WIB
Sore Hari, Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.162 per Dolar AS Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.162 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (8/10) sore. Posisi kurs mata uang Garuda ini menguat tipis 0,01 persen dibandingkan penutupan pada Senin (7/10), Rp14.162,5 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.170 per dolar AS atau melemah dibanding Senin kemarin, yakni Rp14.156 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.137 hingga Rp14.175 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, yen Jepang menguat 0,08 persen, dolar Singapura 0,08 persen, bath Thailand 0,21 persen, dan yuan China 0,23 persen.


Kemudian, dolar Taiwan menguat 0,27 persen, won Korea menguat 0,28 persen, dan peso Filipina 0,28 persen.

Sementara itu, terdapat mata uang yang melemah, seperti ringgit Malaysia keok 0,04 persen dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Penguatan terhadap dolar AS juga terjadi pada beberapa mata uang negara maju. Tercatat, euro menguat 0.18 persen, dolar Australia menguat 0,33 persen. Namun poundsterling Inggris terpantau melemah 0,16 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor eksternal.

Menurut Ibrahim, rilis data ekonomi AS yang mengecewakan memantik optimisme pelaku pasar bahwa bank sentral AS akan mengeksekusi pemangkasan tingkat suku bunga acuan.

"Belum lama ini, Manufacturing Purchasing Manager Index (PMI) AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan ada di level 47,8, itu jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4," Kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/10).

Kemudian, lanjut Ibrahim, Non-Manufacturing PMI periode September 2019 diumumkan juga berada di level 52,6, di bawah konsensus sebesar 55,1.

Selain itu, Ibrahim mengungkap para pelaku pasar masih khawatir atas perang dagang China dan AS. Mereka mengantisipasi pertemuan kedua pihak itu tidak akan menghasilkan keputusan yang mumpuni.

"Pertemuan antara wakil dari AS dan negosiator perdagangan China di Washington pada hari Senin lalu hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda kemajuan," ucapnya.

Ia juga menyebut asa damai dagang antara AS dan China kembali menjadi topik utama hari ini. Ibrahim mengatakan laporan terbaru menunjukkan bahwa China menjadi lebih ragu untuk menyepakati kesepakatan perdagangan luas dengan AS.

Ketegangan perdagangan antara kedua belah pihak meningkat hanya beberapa hari sebelum pembicaraan mengenai delapan perusahaan teknologi China yang dilaporkan dan dimasukkan dalam daftar hitam AS pada Senin lalu atas dasar tuduhan terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim di provinsi Xinjiang.

Presiden A.S. Donald Trump mengatakan kenaikan tarif akan berlaku jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi mendatang.

Penguatan nilai tukar rupiah juga didukung karena faktor domestik, dengan berkurangnya jumlah pengangguran. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2019 mengalami penurunan sebanyak 50.000 orang menjadi 6,82 juta orang.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga telah melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi melalui perdagangan DNDF.

Intervensi tersebut berhasil menahan pelemahan mata uang garuda. Rilis cadangan devisa Indonesia per akhir September sebesar US$124,32 miliar pun turun sebanyak US$2,12 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Ibrahim menyebut penurunan tersebut adalah yang pertama dalam tiga bulan terakhir.
(ara/sfr)