Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan badan usaha membutuhkan waktu yang cukup lama dalam melakukan eksplorasi di satu lapangan atau blok migas hingga bisa memproduksi. Perhitungannya, butuh waktu sekitar 10 tahun untuk eksplorasi.
"Tentu saja investor yang diharapkan masuk ke eksplorasi ini investor yang kuat. Untuk bergerak di bidang migas ini waktunya cukup panjang, eksplorasi saja kadang 10 tahun belum nanti eksekusinya," ungkap Dwi, Kamis (10/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saat ini memiliki cadangan minyak 3,8 miliar barel, maka yang tersedia belum tereksplorasi ini memiliki potensi 7,4 miliar barel. Dua kali lipat dari yang sekarang," jelas Dwi.
Lebih jauh Dwi mengungkapkan ada empat strategi yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sektor hulu migas di Indonesia. Pertama, menekan penurunan produksi alamiah agar tak mencapai 25 persen.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi ada program rutin, dengan begitu bisa mengontrol proyek yang sudah jalan," tutur Dwi.
Kedua, menjaga agar proyek berjalan tepat waktu. Dengan demikian, beban yang harus dikeluarkan juga semakin membengkak.
Ketiga, badan usaha juga diharapkan memanfaatkan metode enhanced oil recovery (EOR). Keempat, terkait dengan eksplorasi.
"Ini kami punya harapan. Sekarang ada komitmen US$2,4 juta untuk mengaktifkan kegiatan ke depan," pungkasnya.