SKK Migas Bidik Produksi Minyak 1 Juta Barel per Hari di 2033

CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 13:55 WIB
SKK Migas Bidik Produksi Minyak 1 Juta Barel per Hari di 2033 Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha (SKK Migas) menargetkan produksi minyak dapat mencapai 1 juta barel per hari (BOPD) pada 2030-2033 mendatang. Untuk mencapai target itu, butuh investor dengan modal besar yang mau masuk di sektor migas.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan badan usaha membutuhkan waktu yang cukup lama dalam melakukan eksplorasi di satu lapangan atau blok migas hingga bisa memproduksi. Perhitungannya, butuh waktu sekitar 10 tahun untuk eksplorasi.

"Tentu saja investor yang diharapkan masuk ke eksplorasi ini investor yang kuat. Untuk bergerak di bidang migas ini waktunya cukup panjang, eksplorasi saja kadang 10 tahun belum nanti eksekusinya," ungkap Dwi, Kamis (10/10).


Untuk memancing investor yang mau menanamkan dananya di sektor migas, Dwi menyatakan pemerintah perlu membangun iklim investasi cukup positif. Bila regulasi yang dibuat dirasa tak menguntungkan bagi investor, maka sulit target ini tercapai.

"Jangan sampai ada tumpang tindih regulasi, di daerah lalu pusat. Jadi bagaimana regulasi bisa sejalan dan mendukung eksekusi investasi di berbagai tempat," ujar Dwi.

Sejauh ini, Dwi menyatakan terdapat 128 cekungan migas di Indonesia. Namun, badan usaha baru melakukan eksplorasi terhadap 54 cekungan, sehingga masih ada 74 cekungan lagi yang terbuka untuk dilakukan eksplorasi.

"Kalau saat ini memiliki cadangan minyak 3,8 miliar barel, maka yang tersedia belum tereksplorasi ini memiliki potensi 7,4 miliar barel. Dua kali lipat dari yang sekarang," jelas Dwi.

Lebih jauh Dwi mengungkapkan ada empat strategi yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sektor hulu migas di Indonesia. Pertama, menekan penurunan produksi alamiah agar tak mencapai 25 persen.

[Gambas:Video CNN]
"Jadi ada program rutin, dengan begitu bisa mengontrol proyek yang sudah jalan," tutur Dwi.

Kedua, menjaga agar proyek berjalan tepat waktu. Dengan demikian, beban yang harus dikeluarkan juga semakin membengkak.

Ketiga, badan usaha juga diharapkan memanfaatkan metode enhanced oil recovery (EOR). Keempat, terkait dengan eksplorasi.

"Ini kami punya harapan. Sekarang ada komitmen US$2,4 juta untuk mengaktifkan kegiatan ke depan," pungkasnya.

(aud/agt)