Sebelumnya, resesi dapat diartikan sebagai kontraksi perekonomian yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut.
Dilansir dari AFP, Senin (14/10), kebijakan moneter Singapura tidak menggunakan suku bunga melainkan melalui pengelolaan nilai tukar. Dalam hal ini, membiarkan kurs dolar Singapura menguat atau melemah terhadap sekeranjang mata uang mitra dagangnya merupakan cara yang bisa ditempuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan prediksi awal yang juga dirilis hari ini, perekonomian Singapura pada kuartal III berhasil menghindari resesi dengan tumbuh 0,6 persen secara kuartalan. Angka ini membaik dibandingkan kuartal II lalu di mana ekonomi Singapura merosot 2,7 persen.
Sektor manufaktur yang menjadi pilar perekonomian Singapura juga merosot 3,5 persen, lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal sebelumnya yang sebesar 3,3 persen.
Ekonom CIMB Private Banking Song Seng Wun mengungkapkan dengan terhindarnya perekonomian dari resesi, otoritas moneter menilai sedikit pelonggaran kebijakan sudah cukup. Bank sentral juga berharap pertumbuhan ekonomi pada 2020 lebih baik dari tahun ini.
Terlebih, AS-China telah menyepakati sebagian perjanjian untuk menyelesaikan perang dagang antara dua perekonomian terbesar itu.
"Mungkin kesepakatan AS-China fase satu menambah sedikit harapan untuk 2020," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (afp/sfr)