IMF Pangkas Lagi Proyeksi Laju Ekonomi Global Jadi 3 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 16/10/2019 06:00 WIB
IMF Pangkas Lagi Proyeksi Laju Ekonomi Global Jadi 3 Persen Ilustrasi IMF. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 sebanyak 0,3 persen dari 3,3 persen menjadi hanya 3 persen

Dengan laporan terbaru ini, artinya IMF telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi global dua kali. Sebelumnya pada April 2019, IMF juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen dari prediksi awal pada Januari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.

Penasihat Ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath menuturkan target tersebut merupakan angka paling rendah sejak krisis keuangan global. Ia mengkonfirmasi jika pertumbuhan ekonomi global melambat.

"Meningkatnya hambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik terus melemahkan pertumbuhan ekonomi global," katanya dikutip dari World Economic Outlook periode Oktober yang terbit Selasa (15/10).
Perlambatan pertumbuhan ekonomi global dipicu penurunan tajam sektor manufaktur dan perdagangan global. Kondisi ini disebabkan kenaikan tarif dan ketidakpastian kebijakan dagang sehingga mengganggu arus investasi dan permintaan barang modal.

Tak hanya itu, industri otomotif juga mengalami kontraksi karena standar emisi baru yang diterapkan oleh negara di kawasan Uni Eropa. Berbeda dengan sektor manufaktur dan perdagangan yang cenderung lesu, sektor jasa justru mampu mempertahankan pertumbuhan.

"Pertumbuhan volume perdagangan pada paruh pertama 2019 jatuh menjadi hanya 1 persen yang merupakan level terlemah sejak 2012," imbuhnya.
Di samping sentimen perang dagang dan geopolitik, pertumbuhan ekonomi global juga mendapat tekanan dari faktor spesifik. Ini mencakup rendahnya pertumbuhan produktivitas penduduk di beberapa negara berkembang dan demografi penduduk yang menua di negara maju.

Di tengah sentimen negatif ini, IMF mengatakan kebijakan moneter memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi global. Bank sentral di berbagai negara memberikan pelonggaran moneter untuk mengurangi risiko perlambatan ekonomi global.

"Dalam penilaian kami, tanpa stimulus moneter pertumbuhan global akan lebih rendah 0,5 poin pada 2019 dan 2020," katanya.

IMF memprediksi ekonomi negara maju melambat menjadi 1,7 persen di 2019 dari 2,3 tahun lalu. Pertumbuhan negara maju diproyeksi stagnan tahun depan. Tak jauh berbeda, ekonomi negara berkembang diprediksi melambat menjadi 3,9 persen di 2019 dari 4,5 persen pada 2018. Koreksi ini dipicu perang dagang, ketidakpastian kebijakan domestik, dan perlambatan ekonomi China.

Dalam laporan tersebut, IMF mematok target moderat untuk pertumbuhan ekonomi 2020 yakni 3,4 persen, atau turun 0,2 persen dari proyeksi April lalu. Pasalnya, IMF memperkirakan perang dagang AS-Cina bakal mengurangi tingkat PDB global sebesar 0,8 persen pada 2020.
Pulihnya ekonomi global pada 2020 akan ditopang oleh kebangkitan ekonomi negara berkembang yang diprediksi mampu tumbuh sebesar 4,6 persen. Separuh dari angka itu, diyakini bakal disumbang oleh oleh Argentina, Iran, dan Turki. Namun, ekonomi global masih menghadapi tantangan ketidakpastian terutama dari negara dengan ekonomi raksasa, seperti AS, Jepang, dan China. Pertumbuhan ekonomi ketiga negara itu diprediksi masih melambat tahun depan.


(ulf/lav)