Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS. Rupee India keok sebesar 0,45 persen, yuan China 0,20 persen, dan lira Turki 0,16 persen.
Kondisi yang sama juga terjadi pada won Korea yang melemah 0,10 persen, dolar Singapura 0,09 persen, peso Filipina 0,05 persen, serta ringgit Malaysia 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kabar ini dikhawatirkan akan kembali meninggikan friksi dagang antara AS dan Tiongkok dan menyulitkan untuk mendapatkan kesepakatan, ini akan menekan rupiah," kata Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com Rabu, (16/10).
Padahal, lanjut Ariston, kekhawatiran mengenai negosiasi dagang sebenarnya sudah sempat mereda setelah China menerima kesepakatan parsial yang telah dicapai dengan AS kemarin.
[Gambas:Video CNN]
Kekhawatiran pasar pun kembali muncul karena pasar mulai berspekulasi kesepakatan parsial yang terjadi pekan lalu nyatanya tidak memberikan efek jangka panjang.
Selain itu, dari sisi domestik, Ariston menilai data neraca perdagangan Indonesia yang defisit disertai penurunan aktivitas ekspor dan impor juga akan berimbas pada tertekannya rupiah.
Lebih lanjut, ia menilai rupiah berpotensi bergerak di Rp 14.120 sampai dengan Rp14.220 per dolar AS hari ini.