Direktur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makro Prudential BI Retno Ponco Windarti mengatakan proyeksi dibuat dengan melihat kondisi demografi Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia banyak didominasi kalangan milenial.
Namun, mayoritas di antara mereka belum memiliki kemampuan untuk membeli rumah. "Kebutuhan milenial itu demand terbesar sekarang dan ke depan lebih besar lagi. Jadi itu yang harus disentuh dengan membuat matching antara kebutuhan milenial dengan konsep pembiayaan," ucap Retno, Kamis (17/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan saat ini pertumbuhan KPR bank harus didorong demi menopang pertumbuhan kredit nasional. Maklum, KPR merupakan segmen kredit yang biasanya memiliki pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi.
"KPR ini leading sector, makanya BI concern dengan properti karena dia sektor yang punya backward dan forward yang sangat besar. Begitu dia bergerak, yang lain juga bergerak," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Meskipun demikian, ia mengakui mendorong pertumbuhan bukan pekerjaan mudah karena saat ini kondisi ekonomi global dan nasional sedang 'mendung'. Kondisi yang lesu tersebut ia ramal bakal mempengaruhi daya beli masyarakat.
Di tengah tantangan itu, Retno mengatakan bank sentral nasional sejatinya sudah berusaha membantu pertumbuhan KPR. Bantuan diberikan melalui kebijakan pelonggaran tingkat suku bunga acuan hingga perubahan rasio pinjaman (Loan to Value/LTV) bagi sektor perumahan, hingga menurunkan tingkat uang muka (Down Payment/DP) bagi pembelian rumah kedua.
Namun, Retno turut mengakui ada tantangan lain dari sektor perbankan. Saat ini bunga KPR belum turun tajam, meski BI sudah menurunkan tingkat bunga acuannya.
"Tapi memang penentuanbungaKPR dari bank tidak diubah setiap hari, biasanya lebih cepat untuk kredit baru dan setiap bank punya variasi yang berbeda,"pungkasnya.