Akibat masalah tersebut, ia memprediksi penyaluran KUR produktif tak bakal mencapai target sebesar 60 persen dari total plafon penyaluran KUR sebesar Rp140 triliun tahun ini.
"Tahun ini sebetulnya sektor produktif itu 60 persen, tetapi saya mulai melihat tidak tercapai 60 persen," katanya, Rabu (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harap lagi usaha e-commerce melakukan hal yang sama (pengembangan KUR), sehingga KUR makin banyak masuk ke sektor produktif di bidang jasa," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengamini kendala penyaluran KUR produktif salah satunya perputaran modal di sektor peternakan, perikanan, dan perkebunan cenderung lambat.
[Gambas:Video CNN]
Sebagai gambaran, seorang peternak membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk menghasilkan satu kali panen. Sementara itu, sektor jasa diyakini memiliki perputaran modal lebih cepat bahkan bisa dalam kurun waktu satu minggu. Dengan demikian, permintaan KUR dari sektor ini diyakini bisa lebih banyak.
"Hambatan memang dari sisi produksi, tetapi kami tidak mau ekonomi over heating. Kalau KUR perdagangan kami dorong bisa over heating, karena barangnya segitu saja, sedangkan kalau turn over tinggi harga akan naik," katanya.
Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat mencapai Rp102 triliun sepanjang Januari-Agustus 2019. Capaian itu setara 72,85 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp140 triliun.
KUR itu diberikan kepada 3,6 juta debitur. Sementara itu, sejak program ini dicanangkan di 2015, total pembiayaan telah mencapai Rp435,4 triliun kepada 17,5 juta debitur.