Global Lesu, Pengamat Ramal Ekonomi RI Tetap Kokoh pada 2020

CNN Indonesia | Sabtu, 19/10/2019 18:41 WIB
Global Lesu, Pengamat Ramal Ekonomi RI Tetap Kokoh pada 2020 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Para ekonom yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menguat tahun depan, meskipun kondisi perekonomian global sedang dirundung ketidakpastian.  Keyakinan mereka dasarkan pada struktur ekonomi Indonesia saat ini.

Menurut mereka, struktur ekonomi Indonesia saat ini banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Topangan mencapai 56 persen-60 persen.

Ekonom BCA David Sumual  memperkirakan dengan topangan tersebut, ia yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berada di rentang 5 persen-5,2 persen. Memang, target tersebut lebih rendah ketimbang proyeksi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 5,3 persen.


Ia menuturkan seburuk-buruknya kondisi ekonomi global, jika konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih dari 4,6 persen.

"Jadi harus timbul kepercayaan agar konsumsi rumah tangga tetap kuat. Kita harus jaga di situ karena kekuatan Indonesia di konsumsi domestik," katanya, Jumat (18/10).

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom sekaligus Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI Febrio Kacaribu mematok target pertumbuhan ekonomi serupa, di rentang
sekitar 5,0 persen-5,2 persen tahun depan.

Selain menjaga konsumsi rumah tangga sebagai motor utama penggerak pertumbuhan, agar ekonomi tetap tumbuh baik, ia bilang pemerintah harus serius menarik investasi ke dalam negeri. Investasi diperlukan karena saat ini dan beberapa waktu ke depan ekspor Indonesia diprediksi masih lesu karena ekonomi global sedang mendung.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor turun 1,29 persen dari US$14,28 miliar di Agustus menjadi US$14,10 miliar pada September. Nilai ekspor turun lebih tajam secara tahunan sebesar 5,74 persen. Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan kegiatan ekspor impor.

"Jadi tergantung seberapa serius pemerintah untuk menarik investasi baik asing maupun domestik. Itu yang ingin kami lihat, pemerintah bisa tidak," imbuhnya.

Untuk menjaga konsumsi, ia mewanti-wanti dampak rencana kenaikan administered price atau harga yang diatur oleh pemerintah mulai dari iuran BPJS Kesehatan, cukai rokok, tarif jalan tol hingga wacana kenaikan BBM dan tarif dasar listrik. Pasalnya, pos kenaikan tersebut mayoritas bersentuhan dengan masyarakat ekonomi menengah ke bawah sehingga dikhawatirkan bakal menekan konsumsi mereka.

Sementara itu, Ekonom Center Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menilai perlambatan ekonomi China bakal menjadi tantangan tahun depan bagi ekonomi Indonesia. Alasannya, China merupakan pasar utama produk ekspor Indonesia.

Untuk diketahui, perekonomian China hanya tumbuh 6 persen pada kuartal III 2019 di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Kinerja itu melambat 0,2 persen dari kuartal-II 2019, 6,2 persen.

"Artinya kita yang harus siap-siap, kalau kita tidak bisa dorong ekspor, kita harus ganti mana yang bisa kita siapkan supaya penurunan ekspor bisa ditutup oleh pertumbuhan yang lain, yaitu konsumsi dan investasi," katanya.

Namun demikian, ia menilai masyarakat tak perlu khawatir berlebihan dan memutuskan untuk menahan konsumsi. Mengamini pernyataan dua ekonom sebelumnya, ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi dalam negeri.

"Kalau kita menahan konsumsi, justru kita akan jatuh kepada resesi. Jadi kita sendiri yang menentukan pertumbuhan ekonomi kita seperti apa," katanya. (ulf/lav)