Menko Darmin Sebut Penurunan Ekonomi China Sudah Diperkirakan

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 19:18 WIB
Menko Darmin Sebut Penurunan Ekonomi China Sudah Diperkirakan Menko Perekonomian Darmin Nasution. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan kembali meningkat lagi. Peningkatan akan terjadi kalau Negeri Tirai Bambu itu berdamai dengan Amerika Serikat.

Sebab, perekonomian China mulai tertekan begitu bendera perang dagang dikibarkan oleh Negeri Paman Sam. Biro Statistik China baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 sebesar 6 persen.

Kinerja perekonomian negara itu turun dari 6,2 persen pada kuartal II 2019.


"Memang penurunan itu sudah diperkirakan, dunia saja yang melihatnya mungkin masih biasa di atas 6 persen, ternyata tidak," ucap Darmin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/10).

Kendati begitu, menurutnya, perekonomian China masih bisa meningkat lagi ke kisaran di atas 6 persen seperti sebelum perang dagang terjadi. Syaratnya, perang dagang itu harus berhenti supaya hubungan perdagangan antar keduanya berjalan normal dan saling menguntungkan.

"Mereka bisa pick up kalau sudah tidak main keras-kerasan dengan AS terkait bea masuk, itu pasti bisa (meningkat lagi ekonomi China)," ungkapnya.

Bila perekonomian China membaik, sambungnya,  ekonomi Indonesia bisa ikut pulih. Maklum saja, China merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia setelah AS.

Sebelumnya, Juru Bicara Biro Statistik China Mao Shengyong mengatakan bahwa China menghadapi risiko dan tantangan ekonomi yang luar biasa dari dalam maupun luar negeri. Ini yang menyebabkan penurunan ekonomi pada periode Juli-September 2019.

[Gambas:Video CNN]
Dari luar negeri, tantangan berasal dari perang dagang dengan AS. Sementara dari dalam, ada perlambatan ekonomi domestik dan kenaikan harga daging akibat wabah babi di negara tersebut.

China sendiri telah mendorong langkah-langkah stimulus pada tahun ini dengan meningkatkan tingkat penggantian pajak untuk eksportir terkait dengan pengenaan tarif AS. Kemudian, meningkatkan pinjaman bank serta mengerek pengeluaran pada proyek-proyek infrastruktur utama termasuk jalan dan kereta api.
(uli/agt)