REKOMENDASI SAHAM

Saham Bank Makin Kinclong Usai Suku Bunga Acuan Susut

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 10:03 WIB
Saham Bank Makin Kinclong Usai Suku Bunga Acuan Susut Ilustrasi IHSG. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) Kamis (24/10) pekan lalu.

Dengan pemangkasan ini, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali dengan total 100 bps. Pada September 2019, BI juga menurunkan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin ke posisi 5,25 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang melambat, meski sempat mereda seiring kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan China.


"Pelemahan dipicu oleh penurunan volume perdagangan karena perang dagang antara AS dan China, serta penurunan produksi di beberapa negara," katanya.
Analis Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan pasar menyambut baik penurunan suku bunga acuan. Tengok saja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,13 persen ke 6.339 pada perdagangan Kamis (24/10) usai pengumuman pemangkasan suku bunga.

Kenaikannya lebih tinggi dibandingkan sentimen pelantikan Menteri Kabinet Indonesia Maju pada Rabu (23/10). Pelantikan punggawa Presiden Joko Widodo (Jokowi) di periode kedua hanya mampu mendongkrak IHSG 0,52 persen ke level 6.257.

"Penurunan suku bunga itu meringankan beban dunia usaha, sehingga positif bagi pasar," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Ia menuturkan pelonggaran moneter ini memberikan berkah kepada sektor perbankan. Pasalnya, penurunan suku bunga tersebut akan diikuti dengan penurunan suku bunga deposito, sehingga mengurangi biaya dana (cost of fund) perbankan.

"Bunga deposito nasabah yang merupakan pos pengeluaran akan adjust (menyesuaikan), sehingga marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) cenderung membesar," katanya.
Setelah bunga deposito turun, bank juga akan menurunkan tingkat suku bunga kredit. Akan tetapi, transmisi penurunan bunga kredit cenderung lebih lama ketimbang bunga deposito. Pasalnya, perbankan mempertimbangkan sisi kompetisi bisnis dan likuiditas bank.

Alfatih merekomendasikan beli untuk saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Dari keempat bank tersebut, Bank BNI dan Bank BRI telah mengumumkan kinerja keuangan kuartal II 2019. Sayangnya, laba bank pelat merah hanya mampu tumbuh satu digit dari periode yang sama tahun lalu mencapai dua digit.

Bank BRI mencetak laba bersih Rp24,8 triliun pada kuartal III 2019, cuma tumbuh 5,36 persen dari periode yang sama tahun lalu, Rp23,47 triliun. Padahal, pada kuartal III 2018, laba emiten dengan kode BBRI ini melesat 14,6 persen secara tahunan.

Sedangkan Bank BNI mengantongi laba Rp12 triliun hanya tumbuh 4,7 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, laba perseroan melaju 12,6 persen. Sedangkan Bank Mandiri dan Bank BCA belum menyampaikan laporan keuangan.
Meski lesu, Alfatih meyakini kinerja empat bank tersebut akan membaik di kuartal IV 2019.

"Biasanya akhir tahun itu lebih positif, karena beberapa transaksi pemerintah biasanya terjadi di kuartal IV," ujarnya.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengamini pemangkasan suku bunga akan memberikan sentimen positif kepada sektor perbankan. Ketika suku bunga turun otomatis mengurangi modal emiten sektor perbankan dalam menyalurkan kredit.

Ia menuturkan empat saham tersebut secara teknikal mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya itu, saham-saham bank tersebut berpotensi melanjutkan kenaikan.

"Menjelang pengumuman suku bunga, pasar bergerak positif bahkan setelah pengumuman pun, pasar masih diperdagangkan menguat, bahkan masih melanjutkan kenaikan," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Pada perdagangan Jumat (25/10), saham Bank BRI melemah 1,63 persen ke posisi Rp4.230 per saham. Hendriko mengatakan secara teknikal, saham Bank BRI berpotensi naik ke level Rp4.350-Rp4.380. Jika sahamnya mampu menembus level itu, maka berpotensi menguat hingga Rp4.500-Rp4.600 per saham.

Lebih lanjut, saham Bank BNI berpeluang naik ke level Rp8.200-Rp8.300. Apabila sahamnya mampu menembus level, maka saham Bank BNI berpotensi melanjutkan penguatan ke posisi Rp8.500-Rp8.650 per saham. Saham Bank BNI terpantau koreksi 0,95 persen ke level Rp7.825 per saham.

Lalu, saham Bank Mandiri ditutup melemah 3,11 persen ke posisi Rp7.000 per saham. Akan tetapi, Hendriko menuturkan jika saham Bank Mandiri mampu bertahan di atas level Rp7.200-Rp7.250, maka berpotensi menguat ke level Rp7.500-Rp7.600 per saham.

Sementara itu, Bank BCA juga melemah 1,59 persen ke level Rp31 ribu. Jika, sahamnya berhasil bertahan di atas level Rp31 ribu, maka saham Bank BCA berpotensi naik ke level Rp32.500-Rp33.400 per saham.
Selain sektor perbankan, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai sektor properti juga kena imbas positif dari penurunan suku bunga acuan. Ia merekomendasikan beli untuk tiga saham sektor properti, yaitu saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Namun demikian, sentimen positif kepada sektor properti akan bergantung pada penyesuaian suku bunga kredit oleh perbankan. Pasalnya, bank belum sepenuhnya mentransmisikan penurunan suku bunga acuan kepada bunga kredit.

"Ketika BI turunkan suku bunga dan melonggarkan kebijakan makro prudensial, ini menjadi pendorong. Masalahnya, bank belum menurunkan suku bunga kreditnya, ini masalah," ujarnya.

Ia menuturkan fundamental ketiga emiten properti tersebut cukup kuat. Bumi Serpong Damai membukukan marketing sales senilai Rp5,3 triliun pada kuartal III-2019. Jumlah itu setara 85 persen dari target marketing sales 2019 sebesar Rp6,2 triliun.

Pada kuartal IV 2019, perusahaan akan meluncurkan klaster baru yang berlokasi di pengembangan tahap kedua BSD City. Rilis klaster baru berpotensi mengerek Bumi Serpong Damai marketing sales.

Dari sisi kinerja saham, terpantau turun 1,38 persen ke Rp1.430 per saham pada perdagangan pekan lalu. Nico mematok target harga saham dengan kode BSDe ini ke level Rp1.550 per saham dalam jangka pendek.

Sementara itu, Summarecon Agung membukukan marketing sales Rp3,4 triliun hingga September 2019, setara 84 persen dari target.

"Dengan sisa waktu tahun ini tampaknya perusahaan optimis terkait target marketing sales akan tercapai, yakni sebesar Rp4 triliun,"imbuhnya.

Saham Summarecon Agung ditutup turun 3,64 persen ke level Rp1.190 per saham. Dalam jangka pendek, saham dengan kode SMRA ini diyakini bisa menembus level Rp1.200 per saham.

"Ciputra Development sendiri boleh dibilang emiten yang kuat, karena dia punya macam-macam proyek yang strategis, jadi bukan hanya sekedar membangun tapi jangka waktu proyek tersebut panjang," ujarnya.

Pada kuartal III 2019, Ciputra Developmenet mengantongi marketing sales Rp4,2 triliun, setara 70 persen dari target akhir tahun sebesar Rp6 triliun. Saham Ciputra Development terpantau turun 3,69 persen ke posisi Rp1.175 per saham pekan lalu. Target harga saham dengan kode CTRA itu dipatok pada posisi Rp1.365 per saham hingga akhir tahun. (Ulfa Arieza/lav)