Kabinet Silih Berganti, Pedagang Beras Keluhkan Daya Beli

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 13:40 WIB
Kabinet Silih Berganti, Pedagang Beras Keluhkan Daya Beli Pedagang beras di Pasar Induk Cipinang. (CNN Indonesia/Aria Ananda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang berharap Kabinet Indonesia Maju bentukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mampu mengerek daya beli masyarakat.

Haryanto Putro, seorang pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, mengeluhkan kondisi pasar kini sepi pengunjung. Padahal, harga jual kian bersahabat.

Beberapa tahun lalu, ia mengaku mampu menjual 20 ton beras dalam sehari. Namun, angka tersebut semakin menurun dalam kurun waktu dua tahun terakhir hingga tinggal separuh.


"Sekarang penjualan makin menyusut. Paling banter 10 ton (beras terjual), 9 ton kalo lagi sepi banget bisa sampe 9, 8 ton," ungkapnya kepada CNNIndonesia di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (28/10).

Menurut Haryanto, hal tersebut disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun. Karenanya, dengan susunan kabinet pemerintahan yang baru, ia berharap pemerintah dapat mendongkrak kemampuan beli masyarakat ke depan.

"Daya beli itu aja yang dibenerin. Saya kan cuma pedagang beras, yang pintar cari solusi kan harusnya menteri-menteri itu," tuturnya.

Sebenarnya, menurut dia, kinerja pemerintahan terkait kebijakan pangan beras selama lima tahun terakhir sudah cukup baik. Ia mengatakan penerapan harga beras semakin stabil dalam tiga tahun terakhir.

"Menurut saya (kinerja pemerintah) udah bagus, pasokan beras udah bagus, harga beras udah bagus. (Harga) enggak naik-naik kok dari dua tahun belakangan ini. Enggak meningkat sampai Rp2.000, Rp1.000 (per kilogram/kg). Naiknya paling Rp100, Rp200 sampai Rp500 per kg," ujarnya.

Kini, ia mengaku menjual beras dengan patokan harga sebesar Rp9.500 per kg.

Tak hanya Haryanto, keluhan mengenai daya beli yang menurun juga diungkap oleh pedagang lain, Winarto.

Winarto merasa kini pasar semakin sepi pembeli. Ia menyayangkan pemerintah yang dinilainya belum bisa mendongkrak daya beli masyarakat.

Penjualan beras yang menurun berimbas kepada para pekerjanya yang kerap kabur dan upah pekerja yang merosot.

"Pemerintah harus lebih peduli soal lapangan kerja. Sekarang itu yang susah dari daya belinya. Kalau pendapatan berkurang kan karyawan pada mengeluh. Biasanya nanti keluar, susah lagi nyarinya," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Kendati demikian, senada dengan Haryanto, ia mengaku keberhasilan pemerintah dalam menjaga tingkat harga. Hal itu salah satunya dilakukan melalui implementasi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp12.800 per kg.

"Sekarang udah ada HET jadi spekulan enggak bisa seenaknya mengendalikan harga seperti dulu," katanya.

Sebagai informasi, berdasarkan laman resmi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga beras masih menunjukkan harga di bawah HET, yakni Rp12.500 per kg. Harga tersebut menurun di berbagai daerah dalam beberapa bulan terakhir.
(ara/sfr)