Sumbangan Kenaikan Iuran BPJS ke Inflasi Cuma 0,01 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 13:26 WIB
Sumbangan Kenaikan Iuran BPJS ke Inflasi Cuma 0,01 Persen Ilustrasi BPJS Kesehatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut sumbangan kenaikan iuran BPJS Kesehatan terhadap inflasi Oktober 2019 masih mini.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi kelompok kesehatan yang tercatat hanya sebesar 0,3 persen. Andil dari inflasi kesehatan kepada inflasi Oktober hanya sebesar 0,01 persen.

"Di kelompok pengeluaran kesehatan itu tidak terlihat, tapi pasti ada dampaknya. Namun, kalau yang saya highlight kontribusinya 0,01 persen itu kecil sekali," katanya, Jumat (1/11).

Secara rinci, seluruh sub kelompok kesehatan mengalami inflasi. Sub kelompok jasa kesehatan sebesar 0,15 persen, obat-obatan sebesar 0,71 persen, jasa perawatan jasmani sebesar 0,12 persen, dan perawatan jasmani dan kosmetika 0,29 persen.

Sebagaimana diketahui, tarif BPJS Kesehatan untuk peserta dari golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI) mulai berlaku pada Agustus lalu. Penyesuaian iuran berlaku bagi peserta PBI sebanyak 133 juta jiwa.

Iuran PBI sendiri ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sementara itu, pemerintah akan menaikkan iuran peserta mandiri pada Januari 2020. Iuran peserta kelas mandiri I naik dari Rp80 ribu per bulan menjadi Rp160 ribu per bulan.

Lalu, kelas mandiri II meningkat dari Rp59 ribu per bulan menjadi Rp110 ribu per bulan. Iuran kelas III juga naik dari Rp25.500 per bulan menjadi Rp42 ribu per bulan.

Tak hanya iuran BPJS Kesehatan, pemerintah juga akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen pada awal 2020.

Atas kenaikan cukai itu, ia bilang rokok sebetulnya konsisten menyumbang inflasi tiap bulan, namun andilnya hanya kecil sebesar 0,01 persen. Pada Oktober 2019, tercatat rokok kretek filter dan rokok putih menyumbang inflasi sebesar masing-masing 0,01 persen.

Kontribusinya kepada inflasi masih lebih kecil dibandingkan kontribusi daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen.

"Rokok kenaikannya tipis menyumbang 0,01 persen, setiap bulan selalu muncul. Jadi nanti kalau kenaikan cukai itu tidak seketika kenaikannya tidak akan terasa," ucapnya.

Suhariyanto menuturkan pihaknya telah melakukan prediksi dampak kenaikan seluruh tarif tersebut kepada inflasi. Namun, ia enggan menuturkan hasilnya lantaran masih bersifat asumsi. Tetapi, ia meyakini inflasi tahun depan akan tetap terjaga.

"Pengalaman sejak 2016 ke sini kita mampu kendalikan di antara 3 persen-3,5 persen. Saya kira lumayan bagus dengan kebijakan dari Bank Indonesia. Saya yakin dengan pengalaman panjang inflasi akan terkendali selama tidak ada kebijakan yang mengagetkan," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]


(ulf/bir)