Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi kelompok kesehatan yang tercatat hanya sebesar 0,3 persen. Andil dari inflasi kesehatan kepada inflasi Oktober hanya sebesar 0,01 persen.
"Di kelompok pengeluaran kesehatan itu tidak terlihat, tapi pasti ada dampaknya. Namun, kalau yang saya highlight kontribusinya 0,01 persen itu kecil sekali," katanya, Jumat (1/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pemerintah akan menaikkan iuran peserta mandiri pada Januari 2020. Iuran peserta kelas mandiri I naik dari Rp80 ribu per bulan menjadi Rp160 ribu per bulan.
Lalu, kelas mandiri II meningkat dari Rp59 ribu per bulan menjadi Rp110 ribu per bulan. Iuran kelas III juga naik dari Rp25.500 per bulan menjadi Rp42 ribu per bulan.
Atas kenaikan cukai itu, ia bilang rokok sebetulnya konsisten menyumbang inflasi tiap bulan, namun andilnya hanya kecil sebesar 0,01 persen. Pada Oktober 2019, tercatat rokok kretek filter dan rokok putih menyumbang inflasi sebesar masing-masing 0,01 persen.
Kontribusinya kepada inflasi masih lebih kecil dibandingkan kontribusi daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen.
"Rokok kenaikannya tipis menyumbang 0,01 persen, setiap bulan selalu muncul. Jadi nanti kalau kenaikan cukai itu tidak seketika kenaikannya tidak akan terasa," ucapnya.
"Pengalaman sejak 2016 ke sini kita mampu kendalikan di antara 3 persen-3,5 persen. Saya kira lumayan bagus dengan kebijakan dari Bank Indonesia. Saya yakin dengan pengalaman panjang inflasi akan terkendali selama tidak ada kebijakan yang mengagetkan," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)