Eks Mentan Sebut Data Lahan Sawah BPS Tidak Akurat

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 11:50 WIB
Eks Mentan Sebut Data Lahan Sawah BPS Tidak Akurat Mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --
Amran Sulaiman, mantan menteri pertanian, menyebut data lahan sawah yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA) tidak akurat.
"Saya mau sampaikan sekarang karena kalau saya sampaikan sebelumnya, takut gaduh," kata Amran saat melakukan serah terima jabatan menteri pertanian di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (25/10).
Amran mengungkapkan, setelah dilakukan pengecekan ulang terhadap data lahan sawah, ditemukan bahwa data-data yang dikeluarkan oleh BPS tersebut tidak akurat sebesar 92 persen.
"Data pangan yang ada dengan teknologi tinggi itu salah, dengan citra satelit itu salah. Ini harus diperbaiki," ucapnya.

Dengan kesalahan data luas sawah tersebut, ia menyebut kuota subsidi pupuk berpotensi akan berkurang hingga 600 ribu ton. Hal tersebut akan membuat banyak petani tidak bisa mengakses pupuk sehingga membuat produksi turun.
"Kalau produksi turun akhirnya impor masuk. Jadi data itu ada dua. Ada data pertanian, dan ada data mafia," ujarnya
Sebelumnya, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) bersama BPS telah mengeluarkan data luas baku sawah terbaru yang dihimpun dengan metode kerangka sampel area (KSA).
Data itu menyebutkan luas baku sawah Indonesia mencapai 7,1 juta hektare (ha), jauh di bawah data luas sa­­wah lama yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, yakni 8,1 juta ha.

"Hasil pengamatan lapangan, hasil tim empat kementrian, itu ada perbedaan. Salah satu contoh di Banyuasin, dalam data yang menggunakan citra satelit itu ada 0, padahal yang di lapangan 9 ribu ha luas lahan ada. Itu salah satunya," imbuh Amran.


Sementara itu, Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Maju Syahrul Yasin Limpo menyebutkan akan memperbaiki data citra satelit tersebut.

"Kita akan berharap dengan BPS akan melakukan perbaikan data nasional, sehingga jangan ada yang membingungkan lagi. Semua data nanti akan dijadikan satu, dan telah terklarifikasi," ungkapnya.

Syahrul berencana akan memulai perbaikan data dengan memfokuskan dari data kecamatan-kecamatan.
[Gambas:Video CNN]
(ara/sfr)