"Terkait dengan Indonesia, dengan nilai PDB US$1 triliun, ukuran dari ekonomi syariah sebesar 80 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, Selasa (12/11).
Ia menjelaskan konsep ekonomi syariah secara umum adalah mengeluarkan variabel produk non halal, sebagai contoh minuman keras, senjata api, dan perjudian. Saat ini, perhitungan PDB syariah dan konvensional masih digabungkan oleh BPS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BI Institute Solikin M Juhro mengungkapkan Indonesia memiliki berbagai sumber ekonomi syariah yang masih bisa dikembangkan, salah satunya yakni pariwisata halal.
Sebagai catatan, Indonesia berhasil menduduki peringkat teratas sebagai destinasi wisata halal populer di dunia tahun ini. Hal itu tercantum dalam studi Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis oleh Mastercard-CrescentRating. Selain Indonesia, Malaysia juga dinobatkan sebagai destinasi wisata halal populer di dunia.
[Gambas:Video CNN]
"Kami ingin kembangkan peluang syariah di Indonesia supaya tidak jadi konsumen saja tetapi juga produsen, sehingga nantinya keuangan syariah menjadi sumber ekonomi baru," ujarnya.
Ke depan, ia meyakini ekonomi syariah mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Terlebih, ekonomi syariah dianggap mampu mendorong produktivitas lantaran inovasi dengan prinsip bagi hasil tidak ada spekulasi.
Ia mengingatkan, di tengah perlambatan ekonomi dunia, Indonesia tidak lagi bisa mengandalkan sumber ekonomi konvensional seperti ekspor, sektor pertanian, dan manufaktur untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pengembangan ekonomi syariah perlu dilakukan.