"Kami belum ada laporan detail," ucap Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Rabu (13/11).
Kementerian Perdagangan sebelumnya menduga banyak impor cangkul yang dilakukan secara ilegal. Lembaga itu mengaku hanya memberikan satu kali izin impor perkakas tangan pada 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirjen Perlindungan Konsumen & Tertib Niaga (PKTN) Kemendag Veri Anggrijono menduga pemerintah bisa 'kebobolan' impor cangkul ilegal lantaran kekurangan pengawas di lapangan. Namun, ia mengaku masih menyelidiki detail terkait fenomena ini.
"Mungkin ini bisa karena dampak post border, tapi ini sedang kami dalami. Tapi pelaku usaha ilegal kan memang masuknya dari mana saja tidak tahu," kata dia.
Khusus Januari-September 2019, impor cangkul dan garukan kebun mencapai 268,26 ton atau melonjak hampir 3,5 kali lipat dari periode yang sama tahun lalu, 78,1 ton.
Secara nilai, selama sembilan bulan pertama tahun ini, impor perkakas tersebut mencapai US$101,69 ribu atau melonjak tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu, US$33,89 ribu.
Berdasarkan negara, selama periode 2015-2018, impor cangkul dan garukan kebun seluruhnya berasal dari China. Pada periode Januari-September 2019, 99 persen impor alat pertanian itu berasal dari China. Sisanya, impor senilai US$65 berasal dari Jepang.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa heran terhadap impor cangkul yang marak dilakukan oleh sejumlah industri. Ia bahkan mencibir keuntungan yang diperoleh negara pengekspor cangkul dari aktivitas impor yang dilakukan.
"Puluhan ribu-ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang, benar cangkul harus impor. Enak banget itu negara yang barangnya kita impor," tutur Jokowi beberapa waktu lalu.
Lihat juga:Ahok Disebut Bakal Urus BUMN Strategis |