Tinggal Sebulan, Pendapatan Cukai Baru 79 Persen dari Target

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 16:06 WIB
Tinggal Sebulan, Pendapatan Cukai Baru 79 Persen dari Target Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Labuan Bajo, CNN Indonesia -- Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menyatakan penerimaan bea dan cukai baru mencapai Rp165,46 triliun per 12 November kemarin. Penerimaan tersebut baru mencapai 79,24 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang Rp208,8 triliun.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengungkapkan capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 78,11 persen dari target. Namun demikian, pertumbuhannya realisasi penerimaan tersebut hanya 9,13 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan tahun lalu yang masih bisa sebesar 14,68 persen.

"Secara keseluruhan, capaian penerimaan kami tumbuh 9,13 persen dan mayoritas didorong penerimaan cukai," katanya, Rabu (13/11).


Secara rinci, perolehan cukai tercatat sebesar Rp131,06 triliun. Raupan cukai tersebut baru mencapai 79,19 persen dari target Rp165,5 triliun, lebih tinggi dari tahun lalu yakni 72,3 persen.

Pertumbuhan penerimaan cukai sebesar 16,65 persen (yoy) atau lebih tinggi dari tahun lalu 12,39 persen.  Penerimaan cukai berasal dari hasil tembakau (CHT) senilai Rp125,02 miliar, Etil Alkohol (EA) Rp106,53 miliar, minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) Rp5,85 miliar, denda administrasi cukai Rp59,02 miliar, dan cukai lainnya Rp14,72 miliar.

Kemudian, bea masuk menyumbang Rp31,41 triliun atau 80,76 persen dari target Rp38,9 triliun. Capaian bea masuk lebih rendah dari tahun lalu sebesar 93,47 persen.

Sementara pertumbuhan penerimaan bea masuk terpantau minus 5,85 persen (yoy) dibandingkan tahun lalu yakni 15,22 persen.

Heru menjelaskan lesunya pertumbuhan bea masuk dipicu tekanan perekonomian global yang berimbas pada pelemahan kinerja impor.

[Gambas:Video CNN]
"Dominasi tarif 0 persen dan peningkatan Free Trade Agreement (perdagangan bebas) juga menyebabkan rasio bea masuk terhadap total perpajakan relatif menurun," jelasnya.

Sementara itu, DJBC merekam realisasi bea keluar sebesar Rp2,99 miliar setara 67,62 persen dari target Rp4,42 triliun. Capaian ini jauh lebih rendah dari tahun lalu sebesar 196,67 persen. Pertumbuhannya pun terpantau minus 49,32 persen (yoy) dari tahun lalu 79,64 persen.

Ia menjelaskan turunnya kinerja bea keluar disebabkan penurunan kapasitas ekspor mineral khususnya tembaga. Sebelumnya, ia pernah menuturkan penerimaan bea keluar tahun ini menghadapi tantangan dari penurunan ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia.

Tahun ini, rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga Freeport hanya sebesar 198.282 wet ton atau anjlok 84 persen dari rekomendasi tahun lalu yang mencapai 1.247.866 wet ton.

"Lalu, harga crude palm oil (minyak kelapa sawit) belum menunjukkan perbaikan," ucapnya.

Kendati demikian, ia masih optimis target penerimaan bea dan cukai tahun ini sebesar Rp208,8 triliun dapat terpenuhi. Alasannya, kontribusi terbesar penerimaan bea dan cukai berasal dari pos cukai, yang notabene masih bertumbuh positif. Di sisi lain, ia menilai sumbangan bea masuk dan bea keluar tak begitu signifikan kepada penerimaan total.

Selain itu, secara historis penerimaan cukai rokok bakal meningkat pada Desember hingga 2-3 kali lipat dari penerimaan di bulan lainnya. Heru juga memaparkan penerimaan bea dan cukai berhasil melampaui target dalam dua tahun berturut-turut, yakni Rp192,5 triliun setara 101,8 persen di 2017 dan Rp205,5 triliun atau 105,9 persen di 2018.

"Itu yang kami yakini penerimaan bea dan cukai masih bisa sesuai target yang dicanangkan," ujarnya. 

(ulf/agt)