Selain itu, ia mengklaim perkembangan harga sejatinya turut mengimbangi harga di pasar internasional. Di sisi lain, perusahaan secara rutin mengevaluasi harga setiap dua pekan sekali.
"Kami yakini harga avtur Pertamina sudah cukup kompetitif. Harga avtur, BBM, solar, semua pakai formula yang ditetapkan pemerintah, kami ikuti aturan saja," ujar Nicke di Pertamina Energy Forum 2019, Jakarta, Selasa (26/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Nicke mengklaim bahwa keterbatasan infrastruktur di Indonesia timur sudah disadari oleh perusahaan. Maka dari itu, perusahaan mulai mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang di kawasan tersebut.
Salah satunya, kata Nicke, perusahaan pelat merah tengah finalisasi pembangunan infrastruktur hilir di Sorong, Papua. Bila target tak meleset, perusahaan akan meresmikannya pada 10 Desember mendatang.
Sayangnya, Nicke enggan memberi tanggapan lebih lanjut bila Budi Karya tetap ingin mengundang pemain lain masuk ke pasar penjualan avtur di tingkat nasional. Ia hanya menekankan bahwa perusahaan terus berusaha meningkatkan kemampuan sembari menurunkan tingkat impor avtur guna memenuhi keinginan pemerintah mengurangi defisit neraca perdagangan.
"Mulai Maret 2019 kami sudah tidak impor avtur maupun solar. Khusus avtur, kami sudah ekspor sejak Juni 2019. Kilang sudah di-upgrade, khususnya Cilacap, sehingga produksi avtur bisa diperbanyak," jelasnya.
Sebelumnya, Budi Karya menyatakan ingin mengundang pemain lain masuk ke Indonesia guna memenuhi kebutuhan avtur bagi para maskapai. Sebab, harga avtur dari Pertamina lebih tinggi 25 persen dari harga rata-rata di Singapura.
"Saya sudah menghubungi Erick Thohir, dalam akhir minggu ini saya akan adakan rapat menteri BUMN dan stafnya. Kalau sampai tidak ada penurunan harga di Pertamina, Februari kami masukkan partner yang lain," kata Budi Karya.
[Gambas:Video CNN] (uli/age)