Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menanggapi kemungkinan konsumsi solar bersubsidi jebol pada tahun ini. Data Kementerian ESDM memang mencatat konsumsi solar subsidi sudah mencapai 13 juta kiloliter pada Oktober 2019.
Artinya, rata-rata penggunaan volume solar subsidi mencapai 1,3 juta kiloliter per bulan. Sementara sisa kuota subsidi solar tinggal 1,5 juta kiloliter untuk dua bulan. Dengan kondisi tersebut peluang konsumsi solar subsidi melebihi kuota terbuka lebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPH Migas Minta Polda Awasi Penyaluran Solar |
Menurutnya, pemerintah masih punya opsi penambahan kuota solar subsidi dari hasil program mandatori campuran minyak nabati pada BBM alias biodiesel sebanyak 30 persen (B30).
Kebetulan, program itu akan dipercepat dari semula pada awal tahun depan menjadi mulai Desember 2019. "Seberapa pun kebutuhan masyarakat akan dikasih, jangan disalahgunakan," jelasnya.
Di sisi lain, meski akan menjamin kebutuhan publik terpenuhi, namun ia memastikan program ini tetap diawasi dengan jeli. Sebab, ia tidak ingin ada permainan dalam pengadaan solar subsidi.
[Gambas:Video CNN]
Sementara berdasarkan data Kemenkeu, realisasi anggaran subsidi energi sudah mencapai Rp98,5 triliun atau 61,6 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar Rp160 triliun. Realisasi masih minim karena pengaruh penurunan harga minyak dunia.
Rinciannya, anggaran belanja subsidi energi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) baru terpakai Rp58 triliun atau 57,7 persen dari pagu. Sementara realisasi belanja subsidi listrik baru mencapai Rp40,5 triliun atau 68 persen dari pagu. (uli/agt)