OJK Sebut Total Utang Duniatex Tembus Rp22 Triliun

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 17:31 WIB
OJK menyatakan jumlah utang Duniatex Group telah mencapai Rp22 triliun. OJK menyebut utang Duniatex Group menembus Rp22 triliun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan jumlah utang perusahaan tekstil Duniatex Group saat ini mencapai Rp22 triliun, baik di perbankan maupun di lembaga keuangan lain. Angka itu berpotensi meningkat karena proses pencatatan masih berlangsung.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo mengatakan seluruh utang Duniatex Group nantinya dicatatkan dalam proses Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Diketahui, perusahaan memang sedang melakukan restrukturisasi utangnya terhadap sejumlah kreditur.

"Tunggu daftar utangnya. Nanti dijumlahkan masuk PKPU lalu dijumlahkan. Kreditur kan diundang mendaftar," ucap Edy, Jumat (29/11).


Persoalan utang Duniatex Group ini juga mengerek rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross industri perbankan per Oktober 2019 naik dari 2,66 persen menjadi 2,73 persen. Sektor pengolahan menjadi penyumbang terbesar NPL gross.

"NPL gross sektor pengolahan Desember 2018 sebesar 2,52 persen sekarang per Oktober 2019 sebesar 4,12 persen. Kenaikan ini dampak dari Duniatex Group juga, kan entitasnya ada di sektor pengolahan," kata dia.

Sejak beberapa waktu lalu, Duniatex Group memang sedang dilanda masalah likuiditas. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh lembaga pemeringkat Standard and Poor (S&P) yang menurunkan peringkat obligasi global yang diterbitkan entitas usaha Duniatex Group, yakni PT Delta Merlin Dunia Tekstil (DMDT) dari BB- menjadi CCC-.

Kemudian, entitas usaha lainnya, yakni PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) juga tidak bisa mengembalikan kewajiban bunga atas obligasi senilai US$260 juta yang jatuh tempo pada awal Juli 2019.

S&P menyebut biang kerok seretnya likuiditas Duniatex dan anak usahanya terjadi karena perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Penjualan Duniatex secara konsolidasian menurun akibat tak bisa menahan gempuran impor tekstil China yang jauh lebih murah.

[Gambas:Video CNN]

Situasi itu jelas mempengaruhi keuangan perusahaan. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, salah satu kreditur Duniatex Group sebelumnya menyatakan kualitas kredit perusahaan itu turun pada Agustus 2019. Alhasil, tingkat kolektabilitas kredit Duniatex yang sebelumnya masih kol 1 naik menjadi kol 2.

"Iya pada Agustus 2019 ini kreditnya mungkin menjadi kol 2," ungkap Direktur Tresuri dan Internasional BNI Bob Tyasika Ananta.

Bob menyatakan total kredit yang dikucurkan untuk Duniatex Group sebesar Rp500 miliar. Jumlahnya disebut-sebut lebih kecil dibandingkan dengan kredit korporasi lainnya.

(aud/sfr)