REKOMENDASI SAHAM

Tak Perlu Panik Jual Saham Saat IHSG Lesu

ULF, CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 08:29 WIB
Tak Perlu Panik Jual Saham Saat IHSG Lesu Saat IHSG lesu, investor tak perlu buru-buru panik dan jual saham. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar saham tengah diselimuti sentimen negatif baik dari sisi global maupun domestik. Imbasnya, kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak terelakkan.

Dalam sepekan saja, indeks turun 1,45 persen dari level 6.100 menjadi 6.011 pada perdagangan Jumat (29/11). IHSG bahkan menyentuh posisi 5.953 pada Kamis (28/11) yang menjadi titik terendah dalam enam bulan terakhir.

Analis Samuel Sekuritas Suria Dharma menjelaskan penurunan kinerja IHSG lebih dipengaruhi faktor domestik, yaitu sentimen buruk dari industri reksa dana. Sebagaimana diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membubarkan (likuidasi) enam produk reksa dana yang dikelola PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM).


Keputusan pembubaran tertuang dalam surat OJK nomor S-1422.PM/21/2019 tertanggal 21 November 2019. Alasannya, Minna Padi menjanjikan tingkat pengembalian pasti (fixed return) atas produk tersebut.

Imbasnya, terjadi penjualan portofolio efek dalam daftar reksa dana yang dibubarkan oleh OJK sehingga menekan laju indeks. Sebelumnya, PT Narada Aset Manajemen juga mengalami transaksi gagal bayar atas pembelian beberapa efek saham senilai Rp177,78 miliar.

OJK pun memberikan sanksi suspensi terhadap penjualan produk reksa dananya.

"Akhirnya membuat saham-saham yang ada di reksa dana itu dijual dan diberi waktu selama 60 hari. Jadi orang berhati-hati, mau beli tapi ada yang jualan, itu menekan pasar," kata Suria kepada CNNIndonesia.com.

Hal tersebut diamini oleh Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang. Menurut dia, kekhawatiran pasar masih akan berlanjut lantaran diprediksi OJK masih akan melanjutkan penertiban produk reksa dana. Selain permasalahan dari industri reksa dana, ia bilang kinerja emiten sepanjang kuartal III 2019 tak begitu memuaskan, termasuk kinerja emiten-emiten pada jajaran LQ45. Akibatnya, pasar pun makin lesu.

"Dari situ sudah kelihatan dividen yang diterima investor nanti akan mengalami penurunan," ucapnya.

Pertimbangkan Fundamental

Kondisi itu membuat sebagian pelaku pasar kalang kabut hingga melakukan panik jual alias panic selling. Investor beramai-ramai melepas portofolio mereka karena khawatir kondisi pasar ke depan makin menekan harga saham.

Namun demikian, kedua analis tersebut menyarankan pelaku pasar tak buru-buru melepas kepemilikan portofolionya. Suria menyatakan investor harus melihat kembali valuasi saham yang dimiliki.

Jika valuasi saham masih murah, maka investor disarankan menahan kepemilikannya, meskipun sahamnya mengalami koreksi. Untuk diketahui, satu alat ukur yang biasa digunakan untuk melihat tinggi rendahnya valuasi saham adalah price earning ratio (PER).

Perhitungan PER didapat dari harga saham saat ini dibagi dengan keuntungan tahunan per saham atau Earning Per Share (EPS). Semakin tinggi PER, maka semakin mahal valuasi saham (overvalue).

Sebaliknya semakin rendah PER, maka semakin murah valuasi saham (undervalue). Sebagai perbandingan tinggi rendahnya PER, pelaku pasar bisa melihat PER industri.

"Jadi tergantung juga valuasinya bagaimana, tidak bisa dipukul rata harus melihat sahamnya apa," terang dia.

Senada, Edwin juga menyarankan investor membandingkan valuasi saham dengan kinerja fundamental perusahaan. Jika valuasi saham murah sementara kinerja fundamental perusahaan masih bagus, maka ada potensi kenaikan lanjutan.

[Gambas:Video CNN]
Dengan demikian, ia menyarankan investor menahan saham tersebut meskipun harga sahamnya turun. Pasalnya, pelemahan saham hanya dipengaruhi sentimen sesaat yang terjadi di pasar.

Akan tetapi, jika valuasi saham sudah tinggi, ia tak menyoal jika investor ingin melepas saham. Alasannya, jika valuasi mahal maka potensi penguatan cenderung terbatas ke depannya.

Di tengah ketidakpastian pasar saat ini, ia juga menegaskan investor harus menjauhi saham gorengan. Jika terlanjur, ia menganjurkan untuk segera melepas saham gorengan itu ketimbang semakin besar risiko ke depannya.

Ia menjelaskan salah satu ciri yang paling kentara dari saham gorengan adalah valuasinya mahal tetapi harganya tetap naik, sehingga tidak sejalan dengan logika pasar. Terlebih jika kenaikan volume saham terjadi secara tiba-tiba padahal kinerja perusahaan jeblok.

"Jadi investor harus jual saham gorengan dan secara valuasi mahal, lalu fokus kepada emiten yang fundamentalnya bagus," tuturnya.

Ia mencontohkan beberapa saham dengan valuasi murah dan fundamental kuat, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR). Pada perdagangan Jumat (29/11) saham Telkom berada di level Rp3.930 per saham dengan PER 17,70 kali, saham BRI di Rp4.090 dengan PER 15,26 kali, dan Jasa Marga di Rp4.940 dengan PER 17,90 kali.

Sementara itu, Suria merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kinerja kedua saham tersebut diyakini akan terdongkrak penguatan harga crude palm oil (CPO) lantaran permintaan CPO meningkat. Upaya pemerintah meningkatkan permintaan CPO melalui program pencampuran minyak sawit dengan solar atau biodiesel diyakini akan mengerek harga CPO.

"Rencana pemerintah menggunakan B30 dan Malaysia juga rencana menggunakan B20 jadi konsumsi CPO dalam negeri bertambah. Jadi CPO kemungkinan tahun depan lebih bagus daripada tahun ini," katanya.

Selain itu, kedua analis memprediksi IHSG akan bangkit pada Desember ini. Alasannya, dalam 11 tahun terakhir indeks selalu menghijau pada Desember. Menurut keduanya, penopang laju IHSG pada akhir tahun adalah aksi window dressing.

Window dressing merupakan strategi yang dilakukan oleh manajer investasi maupun perusahaan untuk mempercantik portofolio atau performa laporan keuangan untuk menarik minat investor. Karenanya, investor diminta kembali agar tidak melakukan panic selling dalam menyikapi kejatuhan IHSG.

(agt)