Analyst Financial Institutions Group Tengfu Li mengatakan Moody's telah melakukan simulasi krisis (stress test) internal untuk sektor perbankan Indonesia. Hasilnya, menyebutkan perbankan Indonesia tergolong masih tahan banting.
"Kami juga melakukan stress test, hasilnya mereka akan tetap sangat kuat di bawah skenario stress test kami," katanya, Rabu (4/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, ia bilang perbankan Indonesia memiliki peluang untuk melakukan efisiensi ke depan melalui digitalisasi. Lewat digitalisasi perbankan dapat mendongkrak pendapatan non bunga atau fee based income. Dengan kenaikan fee based income, maka NIM pun akan terkerek naik.
Namun demikian, ia tidak menampik jika perbankan Indonesia memiliki ganjalan dari rendahnya penyaluran kredit karena lesunya permintaan kredit. Moody's meramalkan penyaluran kredit bank akan tumbuh satu digit pada 2020 di sekitar 8 persen-9 persen. Target itu lebih rendah ketimbang prediksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu di level 13 persen.
Di samping itu, Moody's mengungkapkan perbankan Indonesia memiliki tantangan dari seretnya likuiditas. Mereka menyebut tingkat likuiditas bank di Indonesia tidak merata antara bank umum kategori usaha (BUKU) besar dan kecil.
"Kami berharap likuiditas stabil karena dua alasan utama, satu permintaan pinjaman yang lemah dan kami melihat bank sentral memberikan pelonggaran likuiditas seperti dengan memotong persyaratan cadangan (Giro Wajib Minimum/GWM)," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (ulf/sfr)