REKOMENDASI SAHAM

Gebrakan Erick Thohir Jadi Katalis Positif Bagi Saham BUMN

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 07:34 WIB
Gebrakan Erick Thohir Jadi Katalis Positif Bagi Saham BUMN Gebrakan yang dibuat oleh Menteri BUMN Erick Thohir dinilai menjadi katalis positif bagi pergerakan saham BUMN. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum genap dua bulan menjabat, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan 'gebrakan' tak terduga sekaligus merealisasikan janjinya untuk 'bersih-bersih' BUMN.

Pada Kamis (5/12) Erick memecat Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Askhara lantaran kedapatan menyelundupkan komponen motor Harley Davidson bekas dan dua sepeda Brompton ke Indonesia. Barang-barang tersebut ilegal karena tidak melalui proses kepabeanan sesuai prosedur yang berlaku

"Saya sebagai Menteri BUMN akan memberhentikan Dirut Garuda," ujar Erick.


Di awal masa jabatannya, Erick menunjuk Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra Marta Hamzah sebagai Komisaris Utama BTN.

Terbaru, Erick juga menunjuk Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Muhammad Chatib Basri sebagai Wakil Komisaris Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Penunjukan ini akan diresmikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin (9/12).

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan langkah Erick mendapatkan sambutan positif dari pelaku pasar. Pasalnya, jajaran komisaris dan direksi dalam perusahaan pelat merah merupakan perpanjangan tangan dari pemegang saham.

Ia meyakini pilihan Erick merupakan orang profesional yang diharapkan mampu memberikan perubahan pada tubuh BUMN.

"Kami tidak bisa bilang ini lebih baik dari ini, tetapi orang yang ditempatkan mewakili kepentingan dan keinginan pemegang saham. Nanti pasar yang akan menilai sosok itu adalah orang profesional atau tidak," ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Terkait Garuda Indonesia, Hans menilai saham maskapai pelat merah itu masih layak koleksi. Ia menilai sentimen negatif akibat kisruh penyelundupan Harley Davidson hanya bersifat temporer.

Selanjutnya, penyegaran direksi akan menjadi katalis positif bagi Garuda Indonesia. Pada penutupan perdagangan Kamis (5/12) usai pengumuman pemberhentian Ari Askhara, saham dengan kode GIAA itu turun 0,8 persen atau 4 poin ke level Rp496 per saham.

Saham Garuda Indonesia jatuh semakin dalam sebesar persen 2,42 persen atau 12 poin ke Rp484 pada akhir pekan. Akan tetapi, Hans meyakini sahamnya masih bisa naik ke posisi Rp595.

"Turunnya pun tidak banyak, dan dalam jangka pendek saham Garuda Indonesia masih bisa rebound lagi karena Garuda Indonesia menghasilkan laba yang lebih baik," katanya.

Ia menuturkan kinerja keuangan Garuda Indonesia diprediksi membaik seiring dengan kenaikan harga tiket sehingga akan menopang pendapatan dan laba perseroan. Kondisi ini sudah mulai tampak pada kinerja kuartal III 2019, dimana Garuda Indonesia mengantongi laba sebesar US$122,42 juta setara Rp1,71 triliun mengacu kurs Rp14 ribu.

Kinerja Garuda Indonesia membaik dari tahun lalu yang mencatatkan rugi sebesar US$114,08 juta setara Rp1,59 triliun.

Raihan laba perseroan ditopang kenaikan pendapatan sebesar 9,95 persen dari US$3,21 miliar setara Rp44,94 triliun pada September 2018 menjadi US$3,54 miliar atau Rp49,56 triliun. Pertumbuhan pendapatan disumbang oleh kenaikan pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 8,89 persen dari US$2,56 miliar menjadi US$2,79 miliar.

Selain Garuda Indonesia, Hans juga merekomendasikan saham BUMN sektor konstruksi, yaitu PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

[Gambas:Video CNN]

Ia memperkirakan saham PT PP mampu menembus level Rp1.859 dari posisi penutupan pekan lalu di level Rp1.415 per saham. Sementara itu, saham Wijaya Karya diyakini bisa berada di Rp2.078 dari posisi Rp1.800.

Lalu Waskita Karya ke posisi Rp1.536 dari Rp1.255 dan Adhi Karya menjadi Rp1.474 dari Rp1.090.

"Saham BUMN itu masih memiliki valuasi murah dan berpotensi naik," katanya.

Senada, Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo juga merekomendasikan beli saham-saham BUMN sektor konstruksi.

Ia memaparkan gebrakan Erick Thohir memilih wakil menteri memberikan sentimen positif di pasar. Terlebih keduanya berasal dari kalangan profesional.

Sebagaimana diketahui, Erick menunjuk Budi Gunadi Sadikin dan Kartika Wirjoatmodjo. Lebih lanjut, Erick membagi tugas kedua yang tertera dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-263/MBU/10/2019 tentang Pembagian Badan Usaha Milik Negara yang Dikoordinasikan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara.

Budi Gunadi Sadikin yang menduduki posisi Wakil Menteri I akan mengelola BUMN sektor farmasi, jasa survei, energi, pertambangan, industri strategis, dan media. Sedangkan, Kartiko Wirjoatmodjo sebagai Wakil Menteri II akan membina BUMN sektor industri agro, kawasan, logistik, pariwisata, jasa keuangan, konstruksi, jasa konsultan, sarana dan prasarana perhubungan.

"Penyegaran itu baik asalkan penyegaran tersebut harus didasari kompetensi dalam bidangnya," ucapnya.

Selain itu, ia menuturkan saham sektor konstruksi mendapatkan berkah dari kelanjutan pembangunan infrastruktur pada periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Untuk diketahui, pemerintah menganggarkan Rp419,2 triliun pada 2020, atau naik 4,9 persen dari Rp 399,7 triliun di 2019.

"Desain pembangunan pemerintah pada periode pertama tetap menjadi perhatian pada periode kedua, bahkan sebelum akhir tahun kita melihat Presiden Jokowi sudah meresmikan jalan tol," ucapnya.

Terkait direksi sendiri, ia bilang BUMN karya masih memiliki sosok-sosok yang handal dalam bidangnya. Ini tampak dari hasil nyata kinerja BUMN karya dalam lima tahun terakhir. Karenanya, ia menyarankan beli saham Adhi Karya dan Waskita Karya.

"Itu menjelaskan bahwa kiprah manajemen yang kompeten berfungsi dengan baik," katanya.

Selain sektor konstruksi, Lucky juga menilai saham-saham sektor pertambangan layak diborong. Kehadiran Budi Gunadi Sadikin yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Inalum (Persero) atau induk holding pertambangan memberikan optimisme terhadap BUMN sektor tambang ke depannya, termasuk masa depan holding industri pertambangan.

Holding BUMN tambang atau yang dikenal dengan MIND.ID menaungi lima perusahaan sektor tambang, tiga di antaranya terbuka yakni PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk. Selain perusahaan tercatat, MIND.ID juga meliputi PT Freeport Indonesia dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk holding.

Ia menyarankan, Budi sebagai Wamen I yang memegang sektor tambang meninjau kembali peran dari komisaris dan direksi dalam perusahaan tersebut.

"Walaupun sektornya menarik akan lebih baik lagu meninjau kembali apakah komposisi komisaris dan direksi masih sesuai dengan visi misi BUMN," ujarnya.

Selain itu, ia bilang kinerja sektor tambang ditopang memanasnya harga minyak dunia. Mengutip Antara, harga minyak dunia naik lebih dari satu persen pada Jumat (6/12) waktu setempat. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 1,6 persen ke posisi US$64,39 per barel.

Dalam sepekan, minyak mentah Brent melonjak tiga persen. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 1,3 persen menjadi US$59,20 per barel.

Kenaikan minyak dipengaruhi oleh kesepakatan OPEC dan sekutunya untuk memperdalam pemotongan produksi minyak sebesar 500 ribu barel per hari pada 2020. Kondisi ini mengurangi pasokan minyak di pasar sehingga harganya pun makin terkerek naik.

"Keunggulan sektor tambang walaupun sektor tersebut likuiditas tidak tinggi tapi harga minyak dunia mengalami kenaikan," tuturnya.

Ia menyarankan beli untuk saham Timah, Antam, dan Bukit Asam. Sebagai catatan, pada perdagangan pekan lalu, saham Timah naik 0,65 persen menjadi Rp775 dan Antam naik 0,62 persen ke Rp810. Sedangkan Bukit Asam turun 0,39 persen ke Rp2.550.

Namun demikian, ia menyatakan Erick hendaknya membenahi perusahaan BUMN yang masih merugi, salah satunya PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Pada kuartal III 2019, perusahaan dengan kode saham KRAS itu membukukan kerugian sebesar US$211,91 juta, setara Rp2,97 triliun mengacu kurs Rp14 ribu.

Kerugian perseroan tersebut membengkak 467 persen dari periode sama tahun lalu sebesar US$37,38 juta, setara dengan Rp523 miliar. Kinerja keuangan yang buruk terus menekan harga sahamnya. Tercatat, saham Krakatau Steel merosot 0,73 persen ke posisi Rp272 per saham pekan lalu.

Selanjutnya, ia menyarankan Erick membenahi perusahaan yang tidak merugi namun belum optimal kinerjanya seperti PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

"Harus dibuat seleksi calon direksi dan komisaris yang memiliki kompetensi, karena dari 142 BUMN tidak seluruhnya menyumbang kinerja positif," katanya.
(age)