Pasalnya, harga rumah kian melejit seiring berjalannya waktu, apalagi yang terletak di kawasan perkotaan.
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, rumah di ibu kota dengan ukuran kecil tipe 21 harganya bisa mencapai Rp200 juta-an. Sementara untuk tipe yang lebih besar, harga dapat meroket hingga belasan miliar rupiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus disadari dulu, pastinya akan sulit, apalagi yang memilih tinggal atau kerjanya di daerah Jakarta yang pilihannya sedikit," kata Andi saat diwawancarai CNNIndonesia.com, Kamis (19/12).
Apabila kemampuan pembayaran cicilan kecil, generasi milenial harus cermat dalam memilih rumah. Menurut Andi, masyarakat harus memilih rumah dengan cicilan paling besar sebanyak 20 persen dari gaji yang dimiliki.
Lihat juga:Trik Agar Utang Tak Bikin Kantong Bolong |
Apabila berada dalam posisi tersebut, Andi pun merekomendasikan masyarakat untuk lebih memilih kawasan-kawasan yang berada di pinggiran ataupun luar Jakarta seperti Depok atau Bogor yang notabene memiliki harga rumah lebih murah ketimbang di Jakarta.
Untuk menyiasati biaya transportasi ke Jakarta, masyarakat dapat memilih rumah-rumah yang berada di kawasan transportasi umum yang mudah diakses seperti stasiun kereta.
"Lokasi itu akan memudahkan mereka. Walaupun jauh dari Jakarta, tapi mereka untuk ngantor itu masih dibilang enggak terlalu ribet karena dekat dengan stasiun kereta api. Lebih hemat dan lebih cepat juga," jelasnya.
Suasana di pameran properti. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono). |
"Untuk DP, apabila belum dapat menyanggupi, bisa mencari yang DP-nya 0 persen, memang akan membutuhkan effort lebih. Namun, kriterianya memang seperti itu, dengan kondisi seperti sekarang," tuturnya.
Siasat Himpun Dana
Sementara itu, Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menilai menabung dapat menjadi salah satu solusi bagi para pencari rumah untuk menyiasati harga DP rumah tersebut.
"Sebetulnya bisa saja menabung, jadi sekitar 20 atau 30 persen setiap bulan dari gaji ditabung, tapi ini butuh kedisiplinan yang tinggi, dan perhitungan yang matang," kata Aidil.
"Bisa race against time (berpacu melawan waktu) juga, maka dari itu harus dipikirkan secara matang, enggak boleh terlalu lama juga untuk menabung," imbuhnya.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, Aidil menyebut masyarakat dapat memilih alternatif lain, yakni dengan melakukan investasi.
"Investasi ditambah menabung itu lebih positif, walaupun harus lebih membutuhkan strategi dan pemikiran. Masyarakat dengan pendapatan minim bisa memulai investasi bersifat short term seperti emas yang memiliki risiko yang rendah," ujar Aidil.
Hal itu membuat emas menjadi pilihan cocok bagi masyarakat yang memiliki pendapatan yang minim. Di sisi lain, investasi emas memiliki kelemahan karena nilainya yang fluktuatif dan bergantung komoditi pasar.
Selain emas, lanjut Aidil, masyarakat dapat mencoba untuk berinvestasi melalui saham ataupun reksadana. Walaupun risikonya lebih tinggi dibandingkan investasi emas, masyarakat dapat mendapatkan timbal balik yang juga tinggi.
"Bermain saham atau reksadana juga bisa dilakukan walaupun high risk tapi juga dapat high return, dan butuh pemahaman tentunya," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
(sfr)
Suasana di pameran properti. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).