Dalam ilmu ekonomi, negara bisa disebut resesi jika ekonominya sudah negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Turki misalnya, pertumbuhan ekonominya pada kuartal I 2019 tercatat minus 2,4 persen. Tren itu berlanjut hingga kuartal II 2019 yang minus 1,5 persen.
Turki memang memiliki masalah di pasar keuangan mereka sejak 2018. Mata uang lira sempat anjlok hingga 40 persen pada tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang mereka khawatirkan, penurunan suku bunga acuan yang lebih rendah untuk mengatasi laju inflasi yang tinggi. Setelah Turki, giliran Meksiko yang terkena wabah resesi.
Ekonomi negara terjun bebas hingga minus 0,8 persen pada kuartal II 2019 dan kembali minus 0,3 persen pada kuartal III 2019.
Pertumbuhan makin parah pada kuartal III 2019. Pada kurun waktu tersebut pertumbuhan mereka minus 3,2 persen.
Setelahnya, ada Venezuela yang ekonominya sudah negatif sejak tahun lalu. Pada kuartal I 2019, ekonominya terkontraksi hingga 20,2 persen.
Krisis ekonomi di Venezuela bisa dibilang semakin parah. Jutaan warganya telah melarikan diri dalam beberapa tahun terakhir untuk menghindari upah rendah, rumah sakit yang rusak, dan kurangnya keamanan di negara itu.
Sementara, IMF memperkirakan inflasi di Venezuela dapat mencapai 200 ribu persen pada tahun ini. Diketahui, dulunya Venezuela adalah negara yang kaya dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Namun, ekonomi negara itu jatuh karena terjadi korupsi dalam dua dekade dan salah urus di bawah pemerintahan sosialis.
Meskipun demikian, terdapat sejumlah negara yang berhasil selamat dari ancaman resesi. Salah satunya, Singapura.
[Gambas:Video CNN]
Negeri Singa itu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 persen pada kuartal III 2019. Angkanya lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya yang hanya 0,2 persen.
Industri manufaktur di Singapura berhasil tumbuh lebih baik dari periode-periode sebelumnya. Sebelumnya, ekonomi Singapura sempat terpukul akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.
Perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar itu membuat permintaan di global melemah. Alhasil, nilai ekspor Singapura ikut terpengaruh.
Selain Singapura, ekonomi di Inggris juga membaik. Padahal, negara itu sebelumnya sempat diprediksi masuk ke jurang resesi.
Kendati begitu, pertumbuhan ekonomi Inggris secara tahunan sebenarnya masih melambat 1 persen. Sementara, secara bulanan justru masih minus 0,1 persen.
Dilansir dari CNN.com, Ekonom Senior Capital Economics Ruth Gregory mengatakan pertumbuhan ekonomi Inggris tahun ini menjadi yang terlemah sejak 2010 lalu. Perlambatan ini dipicu ketidakpastian keluarnya Inggris dari persekutuan Uni Eropa (Brexit) sejak 2016 lalu.
Sentimen itu membebani bisnis, investasi, dan produktivitas Inggris yang memang sudah terdampak perlambatan ekonomi dunia. Makanya, sektor manufaktur di Inggris juga bergerak stagnan selama kuartal III 2019.
Pertumbuhan ekonomi di Jerman terutama ditopang oleh tingkat konsumsi rumah tangga dan pemerintah, ekspor, dan konstruksi. Namun, nilai investasi mesin dan peralatan justru merosot.
Potensi Resesi 2020
Meskipun ancaman resesi sudah mereda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan 'hantu' tersebut masih menghantui ekonomi global tahun depan. Kondisi tersebut dipicu ketidakpastian politik di AS yang muncul akibat wacana pemakzulan Presiden AS Donald Trump oleh Dewan Perwakilan negara tersebut.
"Ketika tren AS belum ada kepastian sampai tahun depan, tentu potensi resesi ada," ucap Yusuf.
Yusuf menilai resesi bisa saja terjadi di AS karena masalah politik dan perang dagang. Selama masih ada ketidakpastian di global, kinerja perdagangan dan investasi sulit tumbuh.
Pertumbuhan AS sebenarnya menunjukkan perbaikan pada kuartal III 2019 sebesar 2,1 persen. Ini lebih baik dari kuartal II 2019 yang hanya 2 persen, tetapi tetap melambat dibandingkan kuartal I 2019 yang mencapai 3,1 persen.
Kendati membaik, situasi politik di AS dan perang dagang AS-China diprediksi membuat ekonomi Negeri Paman Sam memerah jika tak ada kemajuan yang signifikan.
"Potensi resesi itu ada di AS," imbuhnya.
"Perjanjian perang dagang fase pertama katanya memang sudah tapi Trump ini kan labil bisa berubah-ubah. Ini bahaya. Kalau berubah lagi bisa pengaruh ke ekonomi China," jelas Yusuf.
Apalagi, ekonomi China sepanjang tahun ini terus memburuk. Pada kuartal III 2019, ekonomi China hanya tumbuh 6 persen. Pertumbuhannya melambat dibandingkan dengan kuartal I 2019 dan kuartal II 2019 yang masing-masing sebesar 6,4 persen dan 6,2 persen.
Sementara, Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus menyatakan potensi resesi di Indonesia tentu tak bisa dihilangkan jika AS dan China terkena 'wabah' tersebut. Maklum, AS dan China merupakan mitra dagang Indonesia.
"Kalau di kuartal IV 2019 tidak membaik, maka 2020 ini berpotensi menimbulkan gejala resesi yang lebih tinggi. Perlambatan bisa semakin parah atau minus," tutur Heri.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen. Kemudian, kuartal II 2019 hanya 5,05 persen dan kuartal III 2019 cuma 5,02 persen.
"Kalau 2020 tidak ada upaya serius dari pemerintah, semua kebijakan sama saja sementara global semakin berkecamuk, bisa saja ekonomi Indonesia di bawah 5 persen," jelas Heri.
"Ekonomi jadi kian sulit, karena mempengaruhi konsumsi. Pendapatan turun, konsumsi turun. Ada ancaman daya beli," ujarnya.
Heri bilang rancangan undang-undang (ruu) mengenai omnibus law sejatinya bisa membantu Indonesia keluar dari ancaman resesi karena akan mendorong investasi di dalam negeri. Namun, beleid itu masih harus menunggu restu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu.
"Sambil menunggu pemerintah bisa fokus jaga konsumsi masyarakat untuk menopang pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Diketahui, ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan komposisi sebesar 56,52 persen. Kemudian, investasi menyumbang sebesar 32,32 persen, konsumsi pemerintah 8,36 persen, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 1,25 persen, ekspor barang dan jasa 18,75 persen, dikurangi impor barang dan jasa 18,81 persen, dan bahan inventori 1,52 persen.
(aud/agt)