REKOMENDASI SAHAM

Kilau Saham Sektor Konsumer Jelang Pergantian Tahun

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 30/12/2019 07:33 WIB
Kilau Saham Sektor Konsumer Jelang Pergantian Tahun Analis menilai saham konsumer layak dikoleksi karena konsumsi masyarakat pada 2020 membaik dibanding 2019. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2019 akan berakhir dalam hitungan hari. Pelaku pasar bersiap menyusun kembali portofolio investasi demi meraup cuan lebih tebal di tahun tikus logam. Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai pasar saham membaik pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ini, ia menyebut tak terlepas dari beberapa katalis positif di tahun mendatang. Dari dalam negeri, misalnya, pesta demokrasi pemilihan presiden (pilpres) 2019 telah selesai digelar, dan berjalan dengan kondusif sehingga investor kembali meramaikan pasar. Dampaknya baru akan terasa pada 2020 mendatang.

Faktor eksternal pun cenderung memberi warna positif. Perkembangan negosiasi dagang AS-China sepanjang 2019 membuahkan kabar gembira, yakni kesepakatan dagang fase I yang akan ditandatangani awal tahun.

Beberapa pokok kesepakatan dua negara adalah AS menangguhkan tambahan tarif impor atas produk China senilai US$160 miliar yang sejatinya mulai berlaku pada pertengahan Desember 2019 lalu.

AS juga sepakat menurunkan tarif impor dari 15 persen menjadi 7,5 persen terhadap produk China senilai US$120 miliar. Sebagai balasan, Kementerian Keuangan China mengatakan akan menyeret turun tarif impor lebih dari 850 produk AS per 1 Januari 2020.

"Tetapi awal tahun agak konsolidasi. Sebab, IHSG sudah reli akhir tahun karena window dressing, " katanya kepada CNNIndonesia.com.

Di tengah harapan baru itu, Hans meramalkan sektor konsumer menjadi sektor paling kinclong di awal 2020. Sejalan dengan perbaikan ekonomi global, ia meyakini ekonomi Indonesia turut bangkit.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 5,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, yaitu 5,08 persen.

Lewat perbaikan itu, Hans meyakini konsumsi masyarakat turut menguat. "Konsumsi masyarakat adalah faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01 persen secara tahunan pada kuartal III 2019. Kontribusinya mencapai 56,52 persen ke pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data tersebut, tak heran jika Hans meramalkan sektor konsumer akan kinclong pada awal 2020. Secara spesifik, ia merekomendasikan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Hans menambahkan rencana pemecahan nilai nominal saham alias stock split Unilever akan menjadi penopang kinerja saham dengan kode UNVR tersebut. Sesuai jadwal, Unilever akan melakukan stock split dengan rasio 1:5 pada Kamis 2 Januari 2020 nanti.
[Gambas:Video CNN]
Kenaikan harga saham Unilever mulai terkerek naik dalam sebulan terakhir sebesar 4,39 persen usai pengumuman aksi stock split oleh perseroan. Pada perdagangan pekan lalu, saham Unilever Indonesia ditutup di level Rp42.800 naik 0,82 persen.

Sementara itu, saham dua emiten konsumer Grup Salim diyakini akan mendapat berkah dari kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO). Dalam sepekan, harga CPO di bursa berjangka Malaysia tercatat melonjak 5,71 persen dari 2.907 ringgit Malaysia menjadi 3.073 ringgit Malaysia.

Sentimen kenaikan harga CPO berhasil menopang laju saham Indofood Sukses Makmur sebesar 1,6 persen ke level Rp7.925 pada penutupan perdagangan pekan lalu. Sementara, saham Indofood CBP Sukses Makmur tertekan 0,89 persen menjadi Rp11.175 per saham.

Senada, Analis MNC Sekuritas Jessica Sukimaja memproyeksikan saham sektor konsumer menguat awal tahun. Sentimen positif bagi sektor konsumer, yakni peningkatan anggaran dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar 3,64 persen dari Rp826,77 triliun menjadi Rp856,95 triliun pada 2020.

"Dana tersebut dapat meningkatkan pola konsumsi masyarakat khususnya menengah ke bawah," ucapnya.

Meski anggarannya meningkat, faktor inflasi diyakini masih stabil di kisaran 3 persen plus minus 1 persen. Itu berarti, masyarakat utamanya kelas menengah ke bawah dapat menikmati tambahan anggaran tanpa disertai kenaikan harga.

Bagi pelaku pasar, ia merekomendasikan saham Unilever Indonesia, Indofood Sukses Makmur, dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) untuk dikoleksi awal tahun. "Unilever target harga di Rp47.400, Indofood di sebesar Rp8.500, dan HM Sampoerna di level Rp2.700 per saham," tuturnya.

Selain sektor konsumer, ia memperkirakan sektor telekomunikasi juga menggeliat pada tahun depan. Kinerja sektor telekomunikasi bakal ditopang oleh rata-rata pendapatan per pengguna (average revenue per user/ARPU) untuk layanan digital. Ia memprediksi ARPU naik sebesar 20 persen tahun depan didorong peningkatan adds-on (layanan tambahan) dan paket layanan premium.

"Data yield diproyeksikan meningkat 1 persen-2 persen sejalan dengan pertumbuhan trafik data yang signifikan," terang Jessica.

Dari sektor telekomunikasi, ia merekomendasikan saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom dengan target harga Rp4.800 per saham. Pada perdagangan kemarin, saham dengan kode TLKM itu ditutup turun 0,25 persen menjadi Rp3.990 per saham.


(bir)