Garuda Indonesia Batal Cari Duit Rp12,6 T Buat Bayar Utang

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 13:47 WIB
Garuda Indonesia Batal Cari Duit Rp12,6 T Buat Bayar Utang Garuda Indonesia batal menghimpun dana Rp12,6 triliun untuk membayar utang perseroan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk batal menghimpun dana sebesar US$900 juta atau Rp12,6 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS). Sebelumnya, pendanaan itu dilakukan guna membayar setumpuk utang perusahaan.

Mengutip keterbukaan informasi perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal menyatakan pembatalan dilakukan lantaran belum tersedia laporan keuangan limited review atau laporan keuangan audit hingga tanggal pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Fuad menyatakan syarat laporan keuangan limited review tersebut tercantum dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam)-Lembaga Keuangan (LK) Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

"Pembatalan transaksi material pendanaan perseroan sehubungan dengan rencana penerbitan global sukuk dan/atau instrumen keuangan lainnya dengan jumlah maksimum sebesar US$900 juta untuk pembiayaan kembali (refinancing)," ujarnya, dikutip Selasa (31/12).

Saat ini, sambung Fuad, manajemen masih mencari opsi pendanaan lain agar pembayaran utang tetap bisa dilakukan oleh perusahaan. Masalahnya, Garuda Indonesia memiliki utang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan.

"Perusahaan melakukan pengkajian alternatif pendanaan lain untuk memastikan tetap terealisasinya tujuan refinancing," kata Fuad.

Sebelumnya, Garuda Indonesia berencana merilis sejumlah instrumen investasi demi mendapatkan dana segar untuk membayar utang. Pertama, Garuda Indonesia berencana merilis global sukuk dengan nilai US$750 juta yang dijadwalkan jatuh tempo pada 2024 mendatang.

Kemudian, perusahaan akan membayarkan kupon kepada investor tiap enam bulan sekali. Hanya saja, tingkat kupon masih dalam proses negosiasi.

Kedua, perusahaan berencana mencari pendanaan lewat private placement obligasi senilai US$750 juta. Instrumen ini akan jatuh tempo selambat-lambatnya pada 2024.

Ketiga, Garuda Indonesia akan menggunakan skema peer to peer lending dengan nilai US$500 juta. Perusahaan akan membayar bunga setiap tiga bulan sekali.

Manajemen akan meminta restu pemegang saham dalam merealisasikan rencananya mencari pendanaan dalam RUPSLB pada 22 Januari 2019 mendatang.

Berdasarkan laporan keuangan 2018, perusahaan memiliki utang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun sebesar US$1,63 juta. Sedangkan utang jatuh tempo di atas satu tahun senilai US$77 juta.
[Gambas:Video CNN]


(aud/bir)