Isu Haram dan Nelangsa Penjual Terompet Tahun Baru

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 15:24 WIB
Isu Haram dan Nelangsa Penjual Terompet Tahun Baru Supardi tak berharap banyak dari penjualan terompet jelang malam tahun baru. (CNN Indonesia/Aria Ananda).
Jakarta, CNN Indonesia -- Raut wajah Supardi tampak lesu meratapi barang-barang dagangannya. Sambil duduk di jok motor bebek hitamnya, ia sesekali merapikan terompet dan mainan anak-anak yang diletakkan tepat di bagian belakang motor yang terparkir di kawasan Terogong, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Pria berumur 56 tahun itu adalah penjual terompet dan mainan anak-anak. Ia mengaku sudah memakan asam garam berjualan terompet di kawasan Jakarta sejak 1986 silam.

Kesehariannya, Supardi berjualan berpindah-pindah tempat. Ia mencari anak-anak yang tergiur oleh kilap hiasan terompet mainan yang dipajangnya.


Hari ini, merupakan hari spesial untuknya. Ia pun memilih kawasan Terogong karena terdapat ada acara perayaan tahun baru di tempatnya berjualan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini ia terlihat berjualan seorang diri. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku lebih dari 10 teman-temannya berjejer di tempat yang sama.

Dengan mata kepalanya, ia menyaksikan jumlah teman-temannya berkurang satu per satu dari tahun ke tahun.

"Saya ingat 2005 itu ramai, sekitar 30 an jualan di sini. Tahun lalu kita ada sekitar 10, untuk tahun ini sepertinya saya sendirian," ungkap pria berkulit sawo matang itu saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (31/12).

Ia dapat memastikan hal tersebut lantaran tak ada seorang temannya yang mengaku tertarik berjualan terompet dari group WhatsApp yang diikutinya.

Sebenarnya, ia tak heran teman-temannya pergi meninggalkan bisnis terompet. Menurutnya, penjual terompet memang sudah tidak dapat memikat pasar saat ini.

"Yah, sudah sepi mas. Tahun lalu saja rugi bandar. Dari seribu terompet saya siapkan, cuma bisa hampir menutup modal, 500 terjual, padahal 2018 saya bisa jual 700, 800," ungkapnya.

Dari penjualannya tahun lalu, Supardi mengaku rugi sekitar Rp350 ribu dari modal yang ia tanam sejumlah Rp2,3 juta.

Di akhir tahun ini pun, ia hanya berani menyetok sebanyak 300 terompet dengan modal Rp600 ribu karena melihat penjualannya yang kian surut.

Isu Haram dan Pupusnya Asa Penjual Terompet Jelang Tahun BaruMenjelang pergantian tahun baru 2020, sejumlah pedagang terompet musiman mulai marak di kawasan Glodok. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Strategi banting harga pun sudah dilakukan Supardi. Kini, ia mematok harga terompet secara bervariasi, dari yang termurah sebesar Rp10 ribu, sampai yang termahal dengan hiasan-hiasan bermacam-macam seperti binatang, kupu-kupu, naga dengan harga Rp25 ribu per terompet.

"Kalau dulu, sekitar 4 tahun yang lalu, saya jual itu bisa Rp35 ribu, Rp50 ribu, itu masih laku, ludes. Sekarang mah jual segitu gigit jari saja," keluhnya.

Ia merasa hal tersebut disebabkan oleh banjirnya gerakan-gerakan 'sunyikan tahun baru' yang diusung oleh beberapa pihak.

"Karena itu sih mas, yang 'sunyikan tahun baru' di-share di mana-mana, di group WhatsApp, Facebook. Ada juga yang ngomong bunyikan terompet itu haram kan," ujar Supardi lesu.

Supardi yang hidup dengan anak semata wayangnya itu kini hanya bisa pasrah dan menaruh harapan besar pada malam tahun baru nanti.

"Saya cuma bisa berdoa, berharap. Soalnya mau berhenti juga saya sudah enggak tahu mau buat apa. Sudah puluhan tahun saya bisa ini (berjualan terompet) aja yang penting bisa bantu anak saya kuliah nanti," ucapnya.

Tak hanya Supardi, hal yang serupa juga menimpa Muhammad Iqbal, penjual terompet dan mainan anak-anak di kawasan Glodok.

Sama seperti Supardi, Iqbal juga mengaku terjadi penurunan drastis dari jumlah penjual terompet di deretan tempatnya berjualan.

"Berkurang drastis mas, biasanya puluhan, sekarang paling cuma 15, 20 penjual nanti sore itu pun jualannya,"

Padahal, berdasarkan paparan Iqbal, pada akhir tahun lalu saja terdapat 40-an penjual terompet yang sudah siap siaga berjualan sejak tiga atau empat hari menjelang tahun baru.

"Udah pada males mas, jual di awal juga percuma enggak laku juga, gitu," tuturnya.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pada pukul 11.42 WIB, hanya terlihat sekitar 5 penjual terompet yang tersebar di jalan utama kawasan Glodok.

Pria berumur 28 tahun yang sudah mulai berjualan dari pukul 07.00 WIB itu pun mengaku belum berhasil menjual dagangannya hingga saat ini.

Padahal, harga yang ditawarkan pria kurus jangkung berkulit sawo matang itu pun tak jauh berbeda dari Supardi.

Terompet Iqbal dibanderol Rp15 ribu hingga Rp35 ribu, tergantung model dan tingkat kesulitan pembuatan.

Saat ditanya pendapatnya atas penjualan terompet yang menurun, ia kemudian mengungkapkan keluhan yang sama dengan Supardi.

"Gara-gara isu terompet haram mas, sekarang bener-bener sepi, enggak ada yang berani jualan, rugi semua," pungkasnya.

Iqbal mengaku telah rugi sebanyak Rp400 ribu dari modal Rp2 juta pada jualannya akhir tahun lalu.

"Tahun lalu cuma laku sekitar 300-an, saya siapin 800 (terompet). Makanya, tahun ini saya cuma berani pasang 500 terompet," Ungkapnya.

Selain berjualan terompet, Iqbal yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga dengan seorang istrinya dan dua anaknya juga menjadi ojek online.

[Gambas:Video CNN]

"Karena jualan mainan ini enggak menentu, akhirnya saya coba tutupin juga jadi Gojek, sudah 3 tahun terakhir ini," jelasnya.

Sama seperti Supardi, Iqbal kemudian mengungkapkan harapannya sampai dengan penjualan di malam tahun baru nanti.

"Mudah-mudahan nanti malam ramai. Jadi bisa banyak yang beli. Saya cuma berharap saja," pungkasnya.

(ara/sfr)