BPS Catat Inflasi 2019 Terendah Sejak Krisis Moneter

CNN Indonesia | Kamis, 02/01/2020 16:52 WIB
BPS Catat Inflasi 2019 Terendah Sejak Krisis Moneter BPS menyebut inflasi 2019 menjadi yang terendah sejak krisis moneter. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi nasional sebesar 2,72 persen secara tahunan pada Januari-Desember 2019. Tingkat inflasi nasional di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini merupakan yang terendah sejak krisis moneter 1998.

Kepala BPS Suhariyanto mencatat tingkat inflasi nasional pada 1999 hanya sebesar 2,01 persen. Ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi berhasil rendah kembali setelah 20 tahun terakhir.

Kendati begitu, ia mengatakan dasar perhitungan yang digunakan sebenarnya berbeda. Bila menyamakan dasar perhitungannya, inflasi 2019 merupakan yang terendah sejak 2009 atau tepat satu dekade yang lalu sebesar 2,78 persen.


"Yang mendekati adalah 2009, tapi kalau melihat tahun-tahun ke belakang, ini adalah yang terendah sejak 1999," ujar Suhariyanto di kantornya, Kamis (2/1).

Ia memaparkan beberapa alasan mengapa inflasi di awal periode kedua Jokowi bisa rendah. Pertama, harga bahan makanan yang selama ini cukup 'rajin' menyumbang inflasi justru cukup terkendali.

"Harga-harga relatif terkendali, beras tidak muncul (sebagai penyumbang inflasi), padahal bobotnya paling tinggi. Ini karena cadangan beras di Bulog cukup," ucapnya.

Berdasarkan catatannya, 10 komponen pengeluaran yang memberi andil inflasi tinggi sepanjang tahun lalu, yaitu emas dengan andil 0,16 persen, cabai merah 0,15 persen, dan tarif sewa rumah 0,1 persen. Kemudian, bawang merah dengan andil 0,1 persen, ikan segar 0,09 persen, dan rokok kretek filter 0,09 persen.

Lalu, nasi dengan lauk berandil 0,09 persen pada inflasi, diikuti pula dengan tarif kontrak rumah 0,08 persen, bawang putih 0,06 persen, dan upah asisten rumah tangga 0,06 persen. Kondisi ini bahkan cukup berbeda dengan kondisi inflasi tahun lalu yang masih mencapai kisaran 3,13 persen.

[Gambas:Video CNN]
Tahun lalu, inflasi disumbang oleh bensin dengan andil 0,26 persen, beras 0,13 persen, rokok kretek filter 0,13 persen, daging ayam ras 0,12 persen, ikan segar 0,1 persen, dan tarif angkutan udara 0,1 persen. Lalu, juga disumbang oleh tarif sewa rumah 0,09 persen, bawang merah 0,07 persen, nasi dengan lauk 0,07 persen, dan rokok kretek 0,07 persen.

Kedua, sumbangan inflasi dari komponen inti juga berkurang. Tercatat, inflasi inti sebesar 3,02 persen dari sebelumnya 3,07 persen.

"Pergerakan inflasi inti ini polanya lebih mendekati pola 2017, dari tinggi ke lambat. Meski memang ini harus diperhatikan dengan ekstra hati-hati agar daya beli tetap terjaga," ungkapnya.

Ketiga, tidak ada kenaikan harga dari komponen pengeluaran dari kelompok harga yang diatur pemerintah (administered price), seperti BBM dan listrik pada tahun lalu.

(uli/agt)