Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengatakan percepatan mulainya audit ini dilakukan dengan tujuan pemeriksaan dapat rampung sebelum bulan puasa.
Rencananya, proses pengujian, pengumpulan data dan informasi pun sudah bisa diselesaikan meskipun proses audit masih berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemeriksaan ini mempunyai tujuan untuk memberikan opini atas laporan keuangan masing-masing Kementerian atau Lembaga," ungkap Isma.
Dalam proses pemeriksaan, Isma menyebutkan beberapa kriteria dalam audit. Seperti, kesesuaian penyajian angka dengan standar akuntansi, kepatuhan terhadap UU serta efektivitas.
Berdasarkan paparannya, dari keenam kementerian tersebut, Kementerian PUPR saat ini telah memiliki laporan keuangan dengan predikat Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Sementara, kementerian yang pada tahun lalu mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) adalah Kementerian ESDM, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Isma menyebut opini dari BPK tersebut bisa berubah tergantung hasil penilaian lebih lanjut. Namun, dia berharap tahun ini hasil audit keenam kementerian tersebut akan tetap meraih opini yang baik.
"Ini tidak statis bisa naik turun, oleh karena itu untuk yang peroleh WTP selalu pertahankan dengan menindaklanjuti rekomendasi BPK," jelasnya.
Selanjutnya, Kementerian ESDM adalah terkait belanja modal, khususnya jaringan gas dan aset tetap yang akan menjadi PMN alias penyertaan modal negara, juga penerimaan negara bukan pajak dari mineral dan batu bara. Sementara Kementerian KLHK, komponen yang akan diperhatikan adalah PNBP izin pinjam pakai kawasan hutan yang belum terotomatisasi.
Berikutnya, hal yang akan dipantau pada Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah tindak lanjut atas pengadaan jaring apung, serta belanja modal dengan mekanisme design and build.
"Sementara aspek Kementerian Pertanian yang diperhatikan adalah belanja barang yang akan diserahkan kepada masyarakat, serta saldo akun belanja dibayar di muka karena nilainya masih tinggi," lanjut Isma.
"Terkait belanja barang, persediaan, belanja modal, dan aset tetap," tukasnya.
Dari keenam kementerian tersebut, Isma mengatakan lima kementerian signifikan dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat. Artinya, apabila dalam pemeriksaan terdapat opini tertentu, maka akan mempengaruhi laporan keuangan negara.
"PUPR, ESDM, KLHK, Pertanian, dan Kemenko Maritim dan Investasi, oleh karena itu kita ajukan lebih awal," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/age)