Realisasi defisit tersebut meningkat dari posisi 2018 yang hanya sebesar Rp269,4 triliun atau 1,82 persen dari PDB. Sementara, secara persentase terhadap PDB, defisit Desember bisa dibilang tak jauh berbeda jika dibandingkan November 2019 yang sebesar 2,29 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan peningkatan defisit terjadi karena realisasi penerimaan negara masih jauh di bawah belanja negara. Sebagai informasi, penerimaan negara baru mencapai Rp1.957 triliun atau hanya 90,4 persen dari target di APBN 2019 yang sebesar Rp2.165,1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Catatan Kementerian Keuangan, pembiayaan anggaran mencapai Rp399,5 triliun pada akhir 2019. Pembiayaan anggaran meningkat dari asumsi awal Rp296 triliun sesuai proyeksi defisit anggaran awal pelaksanaan APBN 2019.
Alhasil, pembiayaan anggaran sudah 134,9 persen dari target atau tumbuh 30,7 persen dari tahun sebelumnya.
"Negara lain defisit meningkat tetapi pertumbuhan ekonomi juga tidak baik," jelas Sri Mulyani.
Ia mencontohkan, defisit anggaran di India mencapai 7,5 persen dari PDB, Amerika Serikat (AS) 5,6 persen dari PDB, Brazil 7,5 persen dari PDB, dan China 6,1 persen.
[Gambas:Video CNN] (aud/age)