Jokowi Kritik Keras Uni Eropa soal Sawit

CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 16:32 WIB
Presiden Jokowi mengkritik Uni Eropa soal larangan sawit di Rakernas PDIP. Presiden Jokowi mengkritik Uni Eropa soal larangan sawit di Rakernas PDIP. (Foto: CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Jokowi menyatakan Indonesia bisa mencapai produksi CPO hingga 100 ton jika lahan per hektar sawit bisa menghasilkan 7-8 ton.

Dia juga mengkritik sawit terkait dengan isu tak ramah lingkungan yang dimunculkan oleh Uni Eropa.

Hal itu disampaikan Jokowi saat memberikan pidato di Rakernas PDP di Jakarta, Jumat (10/1). Dia menuturkan saat ini ada 13 juta ha lahan sawit dan produksinya mencapai 46 juta ton per tahun.


Dia menyatakan jika produksi dua kali lipat, maka bisa mencapai 100 juta ton CPO. "Per hektare 4 ton, harusnya 7 sampai 8 ton, bisa sampai 100 juta ton," kata Jokowi.


Dia juga mengkritik Uni Eropa yang terus memunculkan isu tak ramah lingkungan. Hal itu, kata dia, karena minyak sawit jauh lebih murah dibandingkan dengan minyak bunga matahari.

"Uni Eropa munculkan isu tak ramah lingkungan, kenapa munculkan isu terus, karena lebih murah dibandingan dengan minyak bunga matahari," kata Jokowi.

Oleh karena itu, dia meminta agar CPO tak melulu diekspor tetapi dijadikan komoditas macam B20 dan B30. Presiden menegaskan dengan B20 yang berasal dari sawit, maka negara akan menghemat Rp110 triliun per tahun.

Sebelumnya, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Pike menegaskan tidak ada larangan impor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dari Indonesia ke Benua Biru.


"Yang saya ingin klarifikasi adalah tidak ada yang namanya larangan untuk impor CPO dari Indonesia. Ekspor dari Indonesia sangat konstan," ujar Pike seperti dikutip dari Antara, Kamis (12/12)).

Berdasarkan data Uni Eropa, impor CPO asal Indonesia relatif stabil. Selama lima tahun terakhir, rata-rata impor CPO dari Indonesia mencapai 3,6 ton atau 2,3 miliar euro per tahun.

Selain itu, mayoritas impor CPO juga berasal dari Indonesia dengan porsi 49 persen. Pike mengakui, persoalan minyak sawit menjadi salah satu isu utama yang mempengaruhi hubungan Uni Eropa dan Indonesia selama dua tahun terakhir. (fra/asa)