"Kami tidak melihat dampak dari apa yang terjadi. Peningkatan (Konflik Iran dan AS) ini, kami sebut ini bagian dari risiko geopolitik global," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/1).
Ia melanjutkan konflik tersebut juga tidak mempengaruhi nilai tukar rupiah. Menurut Perry, hal tersebut dapat dibuktikan dari nilai kurs mata uang garuda yang terus menguat, dan bergerak sesuai fundamental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan paparan Perry, penandatanganan kesepakatan antara AS dan China yang rencananya diadakan pada 15 Januari diharapkan dapat membawa dampak yang positif bagi perekonomian global secara menyeluruh.
Perry mengatakan bahwa ekonomi dunia akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 3 persen sampai 3,1 persen. Angka tersebut meningkat dari perkiraan tahun lalu yang hanya sebesar 2,9 persen.
Kendati demikian, ia tak menampik risiko-risiko global, seperti pertikaian Iran dengan AS, Hubungan dagang China dan AS yang sempat memanas ataupun juga Brexit tentu saja berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi.
Hanya saja, pengaruh tersebut hanya efektif dalam jangka waktu yang tidak terlalu panjang, dan tidak berpengaruh secara signifikan bagi Indonesia saat ini.
"Di risiko global, kami tidak melihat dampak secara signifikan terhadap kondisi makroekonomi (Indonesia), maupun juga terhadap stabilitas eksternal, dan juga terhadap nilai tukar rupiah," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/bir)