"Banjir yang tergolong di luar perkiraan ini sangat memukul pelaku usaha di berbagai sektor seperti ritel, restoran, pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, pengelola taxi, grab dan gojek," kata Wakil Ketua Umum DPP APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) Sarman Simanjorang kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/1).
Ia menyebut ada 400 toko ritel yang diduga terkena dampak langsung dan tidak bisa buka melayani pelanggan. Diperkirakan, omzet ratusan ritel yang tutup saat banjir tersebut mencapai Rp10 miliar per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, ada sektor transportasi yang diduga omzetnya turun sebesar 70 persen atau senilai Rp31,2 miliar. Dari hitung-hitungan di atas, kata Sarman, kerugian bisnis di Jakarta selama kira-kira lima hari bisa mencapai Rp675 miliar.
"Ditambah dengan kerugian pedagang pasar sekitar Rp370 miliar, perkiraan kerugian mencapai Rp.1.045.270.000.000," tegas dia.
[Gambas:Video CNN]
Sarman meminta agar semua pihak tidak terprovokasi dengan menghubungkan kasus banjir dengan politik. Sebagai pebisnis ia berharap agar Pemprov DKI bisa mencarikan solusi agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
"Kami mendukung penuh langkah taktis dan strategis yang akan dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah penyanggga Bodetabek agar dapat merumuskan bersama strategi yang akan dilakukan sehingga kita mampu mengurangi dan menghadapi ancaman banjir ke depan agar tidak mengganggu aktivitas bisnis dan masyarakat," tutup dia.