Sebagai pengingat, tahun lalu, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif terhadap miliaran dolar impor produk China. Sebagai balasan, China juga mengenakan tarif serupa untuk produk AS sehingga menyeret perekonomian global.
Dilansir dari AFP, Selasa (14/1), Badan Kepabeanan China mencatat surplus perdagangan China pada 2019 sekitar US$295,8 miliar atau merosot 8,5 persen dari 2018, US$323,3 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, tensi perdagangan dengan AS memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional, terutama bagi perusahaan yang berdagang dengan AS.
Di sisi lain, ekspor China meningkat 0,5 persen sepanjang tahun lalu, terutama ke pasar non-AS.
Lihat juga:David Calhoun Jadi CEO Baru Boeing |
Bulan lalu, dua negara dengan perekonomian terbesar mengumumkan tercapainya kesepakatan perdagangan fase I. Rencananya, kesepakatan yang menjadi penanda awal redanya perang dagang keduanya akan ditandatangani pada 15 Januari 2020.
Dalam kesepakatan itu, pemerintah AS menyebut China akan membeli produk AS senilai US$200 miliar selama dua tahun. Namun, China belum memberikan konfirmasi atas rencana tersebut.
Menurut Zou, penandatangan kesepakatan baru itu penting dan akan berdampak positif, tidak hanya bagi China dan AS tetapi juga seluruh dunia.
[Gambas:Video CNN]
Trump sebelumnya telah membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap berbagai produk China, termasuk elektronik, yang sedianya diberlakukan pada Desember 2019 lalu. Nilai produk yang dikenakan tarif juga merosot sekitar separuh menjadi US$120 miliar.
Kendati demikian, AS masih mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap produk impor senilai US$250 miliar. (afp/sfr)