AFPI Respons Investasi Memiles: Itu Skema Ponzi, Hati-hati

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 07:30 WIB
AFPI memandang investasi yang ditawarkan Memiles menerapkan skema ponzi. Tersangka kasus investasi Memiles yang diungkap Polda Jatim beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah memandang investasi Memiles telah melanggar aturan fintech peer to peer (P2P) lending. Pelanggaran tercermin dari salah satu investasi Memiles yang menggunakan skema ponzi dan hanya menguntungkan beberapa pihak pengikutnya.

"Itu skema ponzi, saya harapnya masyarakat berhati-hati," kata Kuseryansyah di Kantor Sekretariat AFPI, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Menurut Kuseryansyah, perusahaan Fintech P2P sendiri tidak diperbolehkan untuk menerima uang secara langsung dari peminjam atau borrower. Sementara, dalam fintech yang menggunakan skema ponzi tersebut, investor memberikan uang secara langsung ke rekening perusahaan.


"Kalau fintech P2P lending enggak boleh (berikan uang langsung)  dari lender, (uang) langsung ke virtual account. Dari virtual akun, ini langsung ditransfer ke virtual account-nya borrower. Jadi, uangnya enggak ditransfer ke rekening milik dari platform fintech," jelasnya.

Dengan demikian, lanjut Kuseryansyah, tempat penyimpanan uang dari investor sepantasnya berada di escrow account, atau akun yang tidak bisa ditarik oleh platform, setelah penerimaan uang.

Ia memastikan bahwa perusahaan fintech yang baik sudah mendesain aturan yang tidak dapat dilakukan skema ponzi.

"Tapi kami dari fintech P2P lending itu memang secara aturan sudah desain, bahwa fintech P2P itu tidak bisa digunakan untuk ponzi," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
Ia mengungkapkan masalah utama dalam investasi Memiles disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi dari masyarakat. Dengan tingkat literasi yang rendah tersebut, banyak masyarakat yang tergiur dengan iming-iming konsep risiko tinggi dengan pendapatan yang besar dari investasi Memiles.

Menurutnya, hal tersebut masih menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan fintech dalam mengedukasi masyarakat agar tidak terjerat investasi bodong tersebut.

"Jangankan yang belum teredukasi, yang sudah teredukasi, kalau sudah ditawarin, misalnya nabung 100 juta, tiap bulan dapat 7 juta sudah tertarik," ucapnya.

Sebaliknya, bagi masyarakat yang memiliki literasi dan ilmu yang cukup kuat dalam investasi fintech, pastinya lebih sulit untuk diiming-imingi hal tersebut. Dengan demikian, ia juga menyebut AFPI sedang berusaha untuk menyosialisasikan informasi terkait bisnis fintech P2P lending yang baik dan benar.

"Karena orang yang literasi keuangannya tinggi, dia kan mikir. Karena dia udah dapat ilmunya, tentu dia akan menahan diri," ujarnya.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur berhasil membongkar kejahatan investasi bodong melalui aplikasi bernama Memiles. Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengatakan Memiles merupakan investasi bodong berkedok aplikasi penyedia jasa iklan.

Masyarakat ditawarkan untuk top up dana investasi dengan iming-iming keuntungan selangit.
(ara/agt)