Perjalanan gagal bayar polis nasabah Jiwasraya mulanya 'hanya' sebesar Rp802 miliar pada Oktober 2018. Gagal bayar itu berasal dari polis jatuh tempo dari produk JS Saving Plan.
JS Saving Plan merupakan produk asuransi yang memberi jaminan diri dan investasi masa depan. Produk dengan durasi kontrak selama lima tahun ini mulai ditawarkan ke nasabah melalui tujuh bank mitra pada 2013, seperti BRI, BTN, Standard Chartered Bank, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, dan Bank QNB Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kesalahan investasi ini membuat Jiwasraya menjadi kolaps seperti sekarang. Kalau kita lihat saham-saham yang diinvestasikan Jiwasraya memang saham 'gorengan'," ungkap Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, beberapa waktu lalu.
Selang setahun, jumlah gagal bayar polis nasabah produk JS Saving kemudian membengkak menjadi Rp12,4 triliun. Nilai ini merupakan akumulasi dari pertambahan polis yang gagal bayar dan bunga pencairan polis yang tak kunjung dibayarkan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Korea Selatan Lee Kang Hyun mencatat setidaknya ada 474 warga negara Negeri Gingseng yang diduga menjadi korban gagal bayar klaim Jiwasraya. Menurut perkiraannya, total klaim asuransi yang gagal dibayarkan Jiwasraya kepada seluruh nasabah kewarganegaraan Korea mencapai Rp572 miliar.
"Yang dibayar lunas baru 10 nasabah, dengan nilai klaim masing-masing kurang dari Rp1 miliar. Masih ada 474 nasabah yang belum dibayar hingga hari ini, termasuk saya dan warga negara Korea yang bekerja di Indonesia," ujar Hyun kepada CNNIndonesia.com.
Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko berjanji akan membayarkan tunggakan klaim asuransi nasabah JS Saving Plan pada 2020 mendatang. Ia optimistis bisa meraup dana segar dari beberapa upaya yang akan dilakukan dalam menyehatkan keuangan perusahaan asuransi BUMN itu.
Hanya saja, Hexana tak menyebut secara spesifik target raihan dana segar dari upaya penyehatan yang akan dilakukan. Hal yang pasti sebagian dana akan digunakan untuk bayar tunggakan klaim dan sisanya untuk operasional.
"Ada modelnya, uang masuk tidak untuk bayar semua (tunggakan klaim) karena perusahaan harus tetap jalan," tuturnya.
Ia menyatakan salah satu strategi untuk menyelamatkan Jiwasraya adalah pelaksanaan dari mitra strategis untuk mengelola anak usaha, yakni Jiwasraya Putra. Saat ini, ia bilang sudah ada enam investor yang sedang mengikuti uji tuntas atau due diligence.
[Gambas:Video CNN]
Strategi lainnya, yaitu pembentukan induk usaha (holding) asuransi. Nantinya, Jiwasraya akan menerbitkan pinjaman subordinasi yang akan dibeli holding tersebut.
Selain itu, Jiwasraya juga berencana membuat produk baru, yakni finansial reinsurance. Namun, Hexana tak menjelaskan lebih lanjut kapan produk itu dirilis.