Buktinya, berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) hingga November 2019, kontribusi wisatawan benua Afrika tidak lebih dari 1 persen. Turis asal Amerika Selatan bahkan tak sampai satu persen dari total wisatawan mancanegara.
"Kebijakannya tidak sinkron. Saya sering diskusikan dengan pak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) bahwa itu tidak pas. Masak kita kasih visa ke negara latin, seperti Ekuador. Sementara, kita WNI ke sana pakai visa, yang masuk (turis) bawa narkoba," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kesempatan yang sama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan 17 juta wisatawan berkunjung tahun ini. Angka ini turun sebanyak 1 juta dari target tahun 2019, yaitu 18 juta wisatawan.
Asisten Deputi Investasi Pariwisata Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Hengky Manurung menyebut target tahun ini lebih realistis. Toh, target tahun sebelumnya pun tidak tercapai.
Lebih lanjut, dalam paparannya pada IDX Channel Economic Outlook 2020, Hengky mengatakan bahwa pihaknya bukan membidik jumlah wisatawan atau kuantitas, melainkan kualitas wisatawan atau uang yang mereka habiskan pada kunjungan.
"Kita lebih mengejar sekarang lebih lama mereka (wisatawan) tinggal mengetahui culture, itu strategi yang kita lagi bangun sekarang," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (wel/bir)