Pengamat: Pemerintah Salah Target Buat Kebijakan Undang Turis

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 11:02 WIB
Pengamat menilai kebijakan bebas visa kunjungan untuk Afrika dan Amerika Selatan salah sasaran. Pengamat menilai kebijakan bebas visa kunjungan untuk Afrika dan Amerika Selatan salah sasaran. (CNN Indonesia/Tiara Sutari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menilai kebijakan pemerintah menarik turis asing salah sasaran. Visa bebas kunjungan 30 hari yang diberikan kepada negara-negara Afrika dan Amerika Selatan berujung sia-sia.

Buktinya, berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) hingga November 2019, kontribusi wisatawan benua Afrika tidak lebih dari 1 persen. Turis asal Amerika Selatan bahkan tak sampai satu persen dari total wisatawan mancanegara.

"Kebijakannya tidak sinkron. Saya sering diskusikan dengan pak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) bahwa itu tidak pas. Masak kita kasih visa ke negara latin, seperti Ekuador. Sementara, kita WNI ke sana pakai visa, yang masuk (turis) bawa narkoba," ujarnya.


Padahal, sumber pasar wisatawan mancanegara terbesar masih dari ASEAN, yakni 38 persen, negara-negara Asia lainnya sebesar 32 persen, Eropa 13 persen, dan negara lainnya mencapai 17 persen dari total.

Berkaca dari data tersebut, Agus meminta pemerintah untuk fokus kepada turis negara-negara di Asia yang menyumbang 70 persen dari total wisatawan luar. "Mencontoh Vietnam, kita fokus saja di Asia," katanya.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa kerja sama antar kementerian dan pemerintah daerah masih rendah. Menurut dia, diperlukan sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah untuk bersinergi.

Di kesempatan yang sama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan 17 juta wisatawan berkunjung tahun ini. Angka ini turun sebanyak 1 juta dari target tahun 2019, yaitu 18 juta wisatawan.

Asisten Deputi Investasi Pariwisata Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Hengky Manurung menyebut target tahun ini lebih realistis. Toh, target tahun sebelumnya pun tidak tercapai.

"Kita bicara 17 juta saja, karena tahun ini mungkin hanya bisa (tercapai) kurang lebih 16,4 juta," papar Hengky.

Lebih lanjut, dalam paparannya pada IDX Channel Economic Outlook 2020, Hengky mengatakan bahwa pihaknya bukan membidik jumlah wisatawan atau kuantitas, melainkan kualitas wisatawan atau uang yang mereka habiskan pada kunjungan.

"Kita lebih mengejar sekarang lebih lama mereka (wisatawan) tinggal mengetahui culture, itu strategi yang kita lagi bangun sekarang," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (wel/bir)