Daging Babi Paling Untung dari Kesepakatan Dagang AS-China

CNN Indonesia | Senin, 20/01/2020 15:26 WIB
Daging Babi Paling Untung dari Kesepakatan Dagang AS-China Pasar daging babi AS mendapat keuntungan terbesar dari redanya tensi dagang antara AS dan China. (Istockphoto/ Voren1).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar daging babi Amerika Serikat (AS) pada 2020 bakal meraup berkah terbesar dari meredanya perang dagang dengan China. Hal itu seiring lonjakan permintaan daging babi dari Negeri Tirai Bambu.

Dilansir dari CNN, Senin (20/1), laporan terkini Kementerian Pertanian AS (USDA) mencatat ekspor daging babi ke China mendominasi dengan porsi 26,5 persen dari seluruh ekspor daging babi AS pada November 2019.

Sebagai perbandingan, kala perang dagang dengan China tengah panas-panasnya pada 2018 lalu, porsi ekspor daging babi AS ke China hanya 4,9 persen.


China merupakan konsumen daging babi terbesar di dunia. Jelang perayaan Imlek, kebutuhan daging babi warga China biasanya akan melesat.

Pada tahun lalu, China harus menggunakan cadangan darurat daging babi lantaran 100 juga ekor babi lokal terserang virus flu babi Afrika.

Defisit daging babi telah mendorong Beijing untuk mencapai kesepakatan dengan AS di tengah tensi perang dagang antara kedua negara.

Pada Agustus 2019 lalu, perusahaan China membeli lebih dari 10 ribu ton daging babi AS. Pembelian itu tetap dilakukan di saat China menunda seluruh produk pertanian AS yang lain.

Selanjutnya, pada akhir Desember 2019, China memangkas tarif untuk impor daging babi AS. Relaksasi itu dilakukan beberapa hari setelah pemerintah China menggunakan
cadangan darurat daging babi sebesar 40 ribu ton.

Keputusan itu bisa dimaklumi mengingat laporan USDA mencatat serangan virus flu babi Afrika membuat harga daging babi China melesat. Bahkan, harganya lebih mahal dibandingkan daging babi AS.

Pada Oktober 2019, harga daging babi China di atas US$3 per pon atau dua kali lipat dari daging bagi AS yang dikenakan tarif, pajak pertambahan nilai, dan ongkos pengangkutan.

Melihat hal itu, USDA menilai lebarnya selisih harga menjadi peluang yang besar bagi industri peternakan babi di AS.

Dengan ditandatanganinya kesepakatan perdagangan fase I pada 15 Januari 2020 lalu, peternak babi AS tidak akan menghadapi kesulitan untuk mengekspor produknya.

[Gambas:Video CNN]

Sebagai catatan, sekitar 16 persen dari total produk asal AS senilai US$200 miliar yang akan dibeli China dalam dua tahun ke depan adalah daging babi.

Optimisme pasar babi AS juga telah ditangkap oleh pelaku pasar. Tercatat, harga saham produsen daging babi terbesar AS Seaboard Corporation menguat hampir 2 persen sehari setelah kesepakatan dagang fase I diteken oleh kedua negara.

(sfr/agt)