'Infeksi' Virus Corona, Harga Minyak Anjlok 2 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 07:15 WIB
'Infeksi' Virus Corona, Harga Minyak Anjlok 2 Persen Virus Corona membuat harga minyak anjlok 2 persen. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari dua persen pada perdagangan Rabu (22/1). Pelemahan harga minyak mentah dipicu perkiraan kelebihan pasokan yang diumumkan oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent turun US$1,38 atau 2,1 persen menjadi US$63,21 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,64 atau 2,8 persen ke level US$56,74per barel.

Diketahui, Ketua IEA Fatih Birol memperkirakan pasar akan mengalami surplus minyak mentah sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada paruh pertama tahun ini.


Kenaikan pasokan global bakal ditopang produksi minyak mentah besar-besaran oleh AS. Bahkan, Badan Informasi Energi AS ( EIA) memperkirakan deposit minyak mentah AS akan tembus rekor tertinggi pada Februari mendatang.

Sementara itu, American Petroleum Institute (API) dijadwalkan akan merilis laporannya pada Rabu (22/1) waktu setempat. Laporan itu akan diikuti peluncuran data resmi pada Kamis (23/1) waktu setempat.

Analis pasar senior di OANDA, New York Edward Moya memperkuat fakta bahwa harga minyak mentah tetap tertekan karena terdapat kekhawatiran kelebihan pasokan.

"Pasalnya, Menteri Energi Saudi Harga Abdulaziz tidak menawarkan sedikit pun optimisme bahwa pengurangan produksi OPEC+ akan diperpanjang melampaui Maret," katanya.

Selain kekhawatiran pasokan, pasar juga was was terhadap merebaknya virus Korona dari China. Kemunculan virus yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek dikhawatirkan membawa dampak pandemi terhadap pertumbuhan ekonomi global.

[Gambas:Video CNN]
Korban meninggal akibat virus mirip flu di China meningkat menjadi 17 kasus, dengan lebih dari 540 kasus dikonfirmasi. Virus tersebut bahkan telah terdeteksi hingga AS.

Goldman Sachsb menyatakan jika virus Korona terus berkembang, maka permintaan minyak mentah berpotensi turun hingga 260 ribu barel per hari. Alasannya, masyarakat diyakini bakal mengurangi perjalanan pada Tahun Baru Imlek. Namun, Goldman menilai pengaruhnya pada fundamental minyak masih terbatas sejauh ini.

"Kekhawatiran permintaan atas potensi epidemi mengalahkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Libya, Iran, dan Irak serta mendorong volatilitas harga di pasar spot dalam beberapa minggu mendatang," kata Goldman.

(ulf/agt)