Pertumbuhan Laba Dua Bank BUMN Melambat Sepanjang 2019

CNN Indonesia | Jumat, 24/01/2020 07:37 WIB
Pertumbuhan Laba Dua Bank BUMN Melambat Sepanjang 2019 Pertumbuhan laba dua bank BUMN melambat pada 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laba dua bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) tumbuh melambat sepanjang 2019.

BRI tercatat meraup laba bersih Rp34,41 triliun pada 2019 atau tumbuh 6,15 persen dibandingkan 2018. Pertumbuhan laba itu melambat signifikan dibandingkan kenaikan laba tahun 2018 yang mencapai 11,6 persen.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan perlambatan pertumbuhan laba dipicu penurunan pertumbuhan seluruh indikator terutama pertumbuhan penyaluran kredit.


"Kenapa laba tumbuh hanya single digit, karena semua indikator tumbuh lebih rendah terutama loan (kredit), pertumbuhan kredit turun lalu laba turun jadi itu make sense," katanya, Kamis (23/1).

Serupa, BNI juga mencatatkan pertumbuhan laba di 2019. BNI membukukan laba bersih sebesar Rp15,38 triliun pada 2019, naik tipis 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp15,02 triliun. Meski meningkat, pertumbuhan laba BNI jauh lebih lambat dibandingkan tahun lalu yakni 10,3 persen.

Perlambatan pertumbuhan laba dua bank pelat merah disebabkan perlambatan pertumbuhan kredit. BRI merekam pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 8,44 persen dari Rp843,6 triliun menjadi Rp908,88 triliun. Tahun lalu, BRI mampu mencatat pertumbuhan kredit hingga dua digit yakni 14,1 persen.

Sunarso mengatakan, salah satu faktor utama pendukung pertumbuhan kredit yakni kredit mikro yang tumbuh 12,19 persen. Bahkan, porsi kredit mikro pada Bank BRI sebagai perusahaan induk meningkat dari 34,3 persen menjadi 35,8 persen.

"Tahun 2022 kami inginkan porsi penyaluran kredit mikro mencapai 40 persen dari total portofolio penyaluran kredit," ucapnya.

Sementara itu, kredit segmen ritel dan menengah tumbuh 12,08 persen dari Rp240,57 triliun menjadi Rp269,64 triliun, kredit segmen konsumer naik 7,38 persen dari Rp130,84 triliun menjadi Rp140,50 triliun. Hanya kredit segmen korporasi yang turun 0,74 persen dari Rp192,45 triliun menjadi Rp191,02 triliun.

Untuk BNI, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,6 persen dari Rp512,78 triliun pada 2018 menjadi Rp556,77 triliun pada 2019. Serupa, pertumbuhan kredit BNI juga lebih rendah dari pertumbuhan kredit tahun lalu sebesar 16,2 persen.

Penyaluran kredit ke segmen kredit kecil tercatat tumbuh 14,2 persen dari Rp 66,06 triliun pada 2018 menjadi Rp75,4 triliun pada 2019. Pertumbuhan yang menonjol terjadi pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang meningkat dari Rp16 triliun pada 2018 menjadi Rp17,7 triliun pada 2019.

Sementara itu, penyaluran kredit ke segmen kredit konsumer naik 7,7 persen dari Rp75,4 triliun menjadi Rp85,87 triliun. Lalu, kredit BNI juga tersalurkan ke segmen kredit koporasi dengan kenaikan 9,8 persen. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor manufaktur, serta listrik, gas, dan air. Pinjaman infrastruktur menjadi salah satu prioritas dalam bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol.

Meski melambat, pertumbuhan kredit BRI dan BNI terpantau lebih tinggi dari proyeksi kredit industri sebesar 6,08 pada 2019.

Raihan laba kedua bank tersebut juga ditopang Pendapatan Bunga Bersih (NII). BRI tercatat mengantongi pertumbuhan NII 5,2 persen menjadi Rp81,7 triliun. Sedangkan NII BNI mencapai Rp36,6 triliun pada 2019, tumbuh tipis 3,3 persen dibandingkan periode yang sama lalu yaitu Rp35,45 triliun. Lagi-lagi, persentase pertumbuhan NII BNI lebih rendah dari tahun lalu sebesar 11 persen.

Bisnis kedua bank tersebut juga diperkuat oleh pendapatan non bunga (Fee Based Income/FBI). Hingga akhir 2019, perolehan FBI BRI tercatat Rp14,29 triliun, tumbuh 20,1 persen dari Rp23,4 triliun. Namun, pertumbuhan FBI lebih lambat dibandingkan tahun lalu sebesar 22,7 triliun.

Sedangkan, BNI mencatat pertumbuhan FBI sebesar 18,1 persen dari Rp9,62 triliun menjadi Rp11,36 triliun. Pertumbuhan FBI ini ditopang segmen konsumer banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6 persen, komisi pengelolaan rekening naik 16,3 persen, komisi ATM yang meningkat 13,2 persen, dan komisi bisnis kartu kredit tumbuh 10,6 persen.

Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) juga terpantau melambat. BRI meraup pertumbuhan DPK sebesar 8,17 persen dari Rp944,3 triliun menjadi Rp1.021,39 triliun. Tahun lalu, DPK perseroan berhasil tumbuh 12,2 persen.

Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 57,71 persen dari total DPK atau senilai Rp589,46 triliun. Sunarso menjelaskan pada 2020 BRI akan fokus menggarap CASA untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana melalui transaction banking di perkotaan maupun melalui micro saving dan micro payment di segmen mikro.

Sementara itu, BNI mencatat pertumbuhan DPK sebesar 6,1 persen dari Rp578,78 triliun menjadi Rp614,31 triliun. Tahun lalu, pertumbuhan DPK perseroan mencapai 12,1 persen.

DPK tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 22,3 persen. Dana murah yang terhimpun tersebut memperbaiki rasio CASA perseroan menjadi 66,6 persen. Membaiknya CASA tersebut menyebabkan BNI dapat menjaga biaya dana atau cost of fund pada level 3,2 persen.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 22,77 persen membaik dari sebelumnya 21,3 persen. Lalu, CAR BNI yakni 19,7 persen membaik dari sebelumnya 18,5 persen.

Lebih lanjut, aset kedua bank terpantau tumbuh. BRI mampu meraup pertumbuhan aset 9,41 persen dari Rp1.296,90 triliun menjadi Rp1.418,95 triliun. Sedangkan, aset BNI tumbuh 4,6 persen dari Rp808,57 triliun menjadi Rp845,61 triliun.

(ulf/sfr)