Tips Mengalahkan Kecerdasan Buatan dalam Wawancara Kerja

CNN Indonesia | Minggu, 26/01/2020 10:01 WIB
Tips Mengalahkan Kecerdasan Buatan dalam Wawancara Kerja Ilustrasi kecerdasan buatan yang dilibatkan perusahaan dalam melakukan seleksi wawancara karyawan baru. (Istockphoto/metamorworks).
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap tahun, jutaan lulusan perguruan tinggi bersaing dalam memperebutkan lowongan kerjaPerusahaan menyiapkan serangkaian tes dengan harapan memperoleh kandidat terbaik dari pelamar.

Tahap wawancara menjadi kesempatan perusahaan untuk lebih mengenal dan mengukur kompetensi pelamar. Pada tahap ini, pelamar akan berusaha menampilkan versi terbaik dirinya kepada perusahaan melalui orang yang mewawancarainya.

Seiring perkembangan teknologi, proses wawancara tak lagi harus dilakukan secara langsung atau tatap muka. Beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat (AS), sudah menerapkan model seleksi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari CNN, konsultan karir di beberapa universitas terkemuka di AS sudah menyiapkan mahasiswanya untuk mengetahui peran kecerdasan buatan dalam proses seleksi karyawan baru dan bagaimana cara menaklukkannya.

Saat ini, korporasi dapat menggunakan jasa perusahaan perekrut dari pihak ketiga untuk menghindari tumpukan aplikasi pelamar. Seleksi menggunakan kecerdasan buatan biasanya dilibatkan untuk rekrutmen posisi magang ataupun staf pemula (entry-level).

Di AS, jasa perekrutan itu salah satunya ditawarkan oleh HireVue. Wawancara kandidat dapat dilakukan via telepon pintar maupun laptop dengan pertanyaan yang sudah disiapkan oleh klien . Mesin akan merekam selama wawancara berlangsung.

Hasil rekaman lalu dianalisis menggunakan algoritma program tertentu. Program tersebut akan melakukan seleksi misalnya berdasarkan penggunaan kata, struktur kalimat, ekspresi wajah dan intonasi suara.


Berdasarkan analisis yang dilakukan, program dapat menentukan kecenderungan karakter pelamar seperti keuletan, kegigihan, hingga kemampuan pelamar bekerja dalam tim. Perusahaan tinggal memilih pelamar yang memiliki karakter dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan.

Kecerdasan buatan ibarat penjaga gerbang yang harus dilalui oleh mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan incaran.

Padahal, sistem kecerdasan buatan itu dinilai belum sepenuhnya teruji dalam mengevaluasi pelamar.

Dosen Ilmu Komputer Univesitas Princeton AS Arvind Narayanan menilai kecerdasan buatan memang dapat membantu mengidentifikasi apakah ada anjing atau kucing pada suatu foto. Tetapi, prediksi tingkat kesuksesan seseorang menjalankan suatu pekerjaan sulit dilakukan.


Tak ayal, ia ragu suatu perusahaan mempunyai sistem yang dapat menganalisa ekspresi wajah untuk menilai kecocokan seseorang terhadap suatu pekerjaan.

Sistem tersebut juga membuat konsultan karir perguruan tinggi dan mahasiswa kesulitan untuk menyiapkan wawancara kerja.

Sarah Ali mengaku telah menjalani delapan wawancara untuk berbagai perusahaan di bidang teknologi dan pemasaran melalui HireVue. Lulusan Duke University ini berhasil mendapatkan kesempatan magang pada wawancara yang pertama. Namun, wawancara lainnya gagal membawanya ke pekerjaan tetap.

Ali mengaku akan melakukan wawancara dengan cara yang berbeda jika ia mengetahui dari awal wawancara itu melibatkan kecerdasan buatan. Misalnya, ia akan menggunakan kata kunci tertentu dan menjaga kontak mata dengan kamera.

"Saat saya memahami proses wawancara dengan kecerdasan buatan, saya akan mulai memikirkannya sebagai sebuah permainan dan bagaimana saya bisa mengoptimalkan kompetensi maupun gerak tubuh tertentu," ujarnya.

HireVue saat memiliki klien hampir 800 perusahaan. Klien dapat memilih apakah akan menggunakan sistem kecerdasan buatan dalam perekrutan.

CEO HireVue Kevin Parker mengungkapkan perusahaan dapat melakukan wawancara terhadap 1 juta orang per tiga bulan. Menurut Parker, kecerdasan buatan dapat membuat proses wawancara lebih cepat, adil, dan konsisten.

"Kami kemungkinan melakukan wawancara terhadap 1 juta mahasiswa tahun ini," ujar Parker kepada CNN Business.

HireVue, sambungnya, mulai menggunakan kecerdasan buatan sejak 2014 untuk membantu korporasi menyeleksi video wawancara yang masuk.

Algoritma program akan menilai penggunaan kata, lafal, dan ekspresi wajah untuk menentukan potensi pelamar memiliki kompetensi yang diinginkan klien seperti empati dan keinginan untuk belajar.


Video wawancara biasanya berdurasi 20 hingga 25 menit. Setelah penilaian dilakukan, klien akan mendapatkan laporan hasil wawancara berisi skor pelamar terkait kompetensi yang dibutuhkan.

Menyiasati perubahan itu, Asisten Direktur Pusat Karir Duke University Meredith Cook mulai mengenalkan keterlibatan kecerdasan buatan kepada mahasiswanya.

Ia mulai melatih mahasiswa untuk menaklukkan proses wawancara dengan keahlian seperti cara mengarahkan kamera dan menghabiskan waktu berbicara di depan laptop.


"Dengan kecerdasan buatan, kami tidak tahu apa yang kami cari," ujar McCook.

[Gambas:Video CNN]

Hal sama juga dilakukan Asisten Direktur Pusat Karir UNC Charlotte AS Matthew French. Tahun ini, universitas akan meminta informasi dari perusahaan mitra terkait penggunaan kecerdasan buatan dalam proses rekrutmen.


"Apa yang saya khawatirkan tentang kecerdasan buatan adalah AI tidak dapat menilai hati dan dorongan yang dimiliki oleh seseorang," keluhnya. (sfr/lav)