Wabah Virus Corona 'Serang' Harga Minyak Dunia

CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 06:59 WIB
Wabah Virus Corona 'Serang' Harga Minyak Dunia Harga minyak keok diterpa serangan Virus Corona. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia jatuh lebih dari dua persen pada perdagangan Jumat (24/1) lalu. Merosotnya harga minyak mentah dipicu penyebaran wabah Virus Corona dari Wuhan, China.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret turun US$1,35 atau 2,2 persen menjadi US$60,69 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret melemah US$1,40 atau 2,5 persen ke level US$54,19 per barel.

Penyebaran penyakit mematikan itu membuat masyarakat China membatasi perjalanannya. Padahal, China merupakan konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, sehingga pemangkasan permintaan China akan mempengaruhi permintaan minyak mentah global. Pasar pun khawatir Virus Corona akan menyebar lebih jauh ke negara-negara lain.


Untuk diketahui, korban meninggal akibat Virus Corona meningkat menjadi 54 dari 41 kasus pada Minggu (26/1). Selain itu, terdapat 1.160 kasus penderita terinfeksi virus corona. Tak hanya di China, virus corona telah ditemukan di beberapa negara Asia lainnya hingga mencapai Prancis dan AS.

Analis Price Futures Group di Chicago Phil Flynn mengamini jika Virus Corona menjadi penekan harga minyak mentah.

"Ini semua tentang Virus Corona dan kami tidak mendapatkan tanda-tanda bahwa semuanya menjadi lebih baik," katanya.

Sementara otoritas kesehatan khawatir tingkat infeksi meningkat selama liburan Tahun Baru Imlek lantaran jutaan orang China bepergian pada perayaan tersebut.

Berbanding terbalik dengan ancaman berkurangnya permintaan, sisi suplai justru bertambah. Data perhitungan rig AS terbaru menyebutkan potensi tambahan pasokan dari produsen minyak mentah dunia.

[Gambas:Video CNN]

Pasalnya, perusahaan energi menambahkan rig minyak untuk minggu kedua. Serupa, AS menyebut persediaan bensin bertambah sehingga tembus rekor. Sementara data OPEC menyebut persediaan minyak dunia melebihi kebutuhan lebih dari lima tahun.

"Sulit untuk mendapatkan pasar minyak mentah yang konstruktif sebelum terjadi penurunan persediaan dunia," kata Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.

(ulf/sfr)