REKOMENDASI SAHAM

Cuan Saham Sektor Konsumer di Tengah Ketidakpastian Global

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 07:20 WIB
Saham sektor konsumer diperkirakan dapat bertahan di tengah ketidakpastian global. Sektor konsumer dianggap sebagai saham defensif di tengah ketidakpastian global. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pada 2020. Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 3,4 persen pada laporan Oktober lalu menjadi 3,3 persen di laporan terbarunya Januari 2020.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengamini ketidakpastian ekonomi global berlanjut tahun ini. Pasalnya, meski AS-China telah menandatangani kesepakatan dagang fase 1 pada Rabu(15/1) lalu, tetapi perang dagang antara belum sepenuhnya reda. Pasar masih mencermati realisasi kesepakatan dagang dua negara.

Kondisi pasar juga 'terinfeksi' wabah Virus Corona dari Wuhan, China. Pasar was-was penyebaran wabah virus mematikan itu bisa mengganggu aktivitas perekonomian global.


"Boleh dibilang pasar masih wait and see," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Ia tidak menampik kondisi tersebut mempengaruhi gairah transaksi di pasar modal. Akibatnya, pasar domestik, regional, maupun global mengalami konsolidasi. Di Tanah Air, kondisi ini diperburuk dengan sentimen negatif dari industri reksa dana.

Sebagaimana diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membubarkan enam reksa dana yang dikelola oleh PT Minna Padi Aset Manajemen pada November lalu. Selain sentimen itu, industri reksa dana juga tersangkut kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menimbulkan kerugian negara hingga Rp13,7 triliun.

Namun demikian, ia menilai pasar modal Indonesia masih terselamatkan dengan aliran modal asing (capital outflow). Sejak awal tahun (year to date/ytd) asing tercatat beli bersih (net buy) di seluruh pasar sebesar Rp2,38 triliun.

"Ini menunjukkan kepercayaan asing kepada pasar modal Indonesia. Kalau memang investor global panik seharusnya terjadi jual bersih (net sell) di bursa" katanya.

Di tengah tekanan ketidakpastian, ia mengimbau pelaku pasar tidak perlu cemas. Alasannya, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di level 5,02 persen di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global, meski melambat dibandingkan tahun lalu yakni 5,17 persen.

Ia menyatakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen masih baik, sementara pertumbuhan ekonomi negara lain anjlok cukup signifikan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 5,05 persen. Angka itu di bawah target pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 5,3 persen dan realisasi 2018 lalu sebesar 5,17 persen. Tak jauh berbeda, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 5,1 persen pada 2019.

"Investor masih bisa hold portofolio mereka dengan rebalancing ke sektor yang lebih defensif, yaitu konsumer," tuturnya.

Konsumsi, lanjut dia, menopang hingga 60 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak heran, jika sektor ini menjadi salah satu sektor defensif.

Saham defensif adalah saham perusahaan-perusahaan yang mampu menjaga kinerja keuangannya stabil di tengah tekanan ekonomi. Dengan koreksi saat ini, bukan tidak mungkin saham-saham tersebut juga ikut terdiskon. Namun, saham defensif berpeluang pulih lebih cepat ketika kondisi pasar mulai membaik, lantaran kondisi fundamental saham-saham tersebut masih kuat.

Dari sektor konsumer ia merekomendasikan beli saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Ia menuturkan dua saham emiten rokok tersebut sudah terdiskon cukup dalam imbas pengumuman kenaikan cukai pada September 2019 lalu.

Untuk diketahui, kenaikan harga cukai tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Kenaikan cukai rokok beragam berdasarkan jenis rokok di rentang 12,84 persen hingga 29,96 persen.

Usai pengumuman kenaikan cukai, saham HM Sampoerna tercatat jatuh lebih dalam yakni 31,85 persen dalam enam bulan terakhir. Lalu, saham Gudang Garam terpantau merosot 29,63 persen dalam enam bulan terakhir. Namun, sejak awal 2020 bertepatan dengan pemberlakuan kenaikan cukai, saham emiten rokok itu mulai kembali mengepul.

"Awalnya, diprediksi kenaikan harga rokok tinggi karena kenaikan cukai, tapi setelah cukai naik, kenaikan harga di pasar tidak signifikan cuma beberapa ribu rupiah, bahkan di bawah prediksi analis," paparnya.

Mengutip RTI Infokom, saham HM Sampoerna naik 2,86 persen sejak awal tahun. Saham dengan kode HMSP ini dibuka pada posisi Rp2.090 di awal tahun lalu berhasil melaju ke posisi Rp2.160 per saham pada perdagangan pekan lalu. Sementara itu, saham Gudang Garam terbang 10 persen sejak awal tahun. Saham dengan kode GGRM ini dibuka pada posisi Rp53.500 awal tahun lalu berhasil melaju ke posisi Rp58.300 per saham pada perdagangan pekan lalu.

Jika dibandingkan dengan persentase penurunannya dalam enam bulan, maka Hendriko memprediksi saham HM Sampoerna dan Gudang Garam masih berpotensi naik.

"Target harga saham HM Sampoerna secara teknikal di level Rp2.350-Rp2.400 per saham, sedangkan Gudang Garam di posisi Rp60 ribu per saham," ucapnya.

Analis Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan sektor kesehatan bisa menjadi pilihan bagi pelaku pasar. Sebab, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggeser strategi pembangunan dari semula berfokus pada pembangunan infrastruktur menjadi pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam pengembangan SDM, sektor pendidikan dan kesehatan menjadi fokus kepala negara.

Nico juga berpendapat kenaikan iuran BPJS Kesehatan bakal meningkatkan kinerja rumah sakit (RS). Tambahan iuran BPJS Kesehatan akan menjaga stabilitas arus kas perseroan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mengerek iuran Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) atau mandiri hingga dua kali lipat.

"Sektor kesehatan in line dengan program pemerintah, ini akan menjadi sinyal yang bagus," ucapnya.

Dari sektor kesehatan, ia merekomendasikan saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Hingga pekan lalu, harga saham Mitra Keluarga mencapai level Rp2.520 per saham, sedangkan saham Siloam Hospitals berada pada level Rp6.750 per saham.

Tak jauh berbeda dengan saham emiten rokok, valuasi saham dua rumah sakit swasta itu masih rendah. Sementara, kinerjanya cukup moncer sehingga diyakini harga saham berpotensi naik. Ia menargetkan saham Mitra Keluarga bisa tembus level Rp2.750 dan Siloam Hospitals Rp7.650 per saham.

Hingga kuartal III 2019, dua perseroan tersebut berhasil menorehkan kinerja positif. Mitra Keluarga mencatatkan peningkatan pendapatan 17,23 persen (yoy) dari Rp2,03 triliun menjadi Rp2,38 triliun.

[Gambas:Video CNN]

Pertumbuhan pendapatan menopang kenaikan laba bersih sebesar 9,45 persen dari Rp486,78 miliar menjadi Rp 531,79 miliar.

Lalu, pendapatan Siloam Hospitals naik 18,67 persen dari Rp4,39 triliun menjadi Rp5,21 triliun. Dari sisi laba tercatat melonjak 457,62 persen dari 9,65 miliar menjadi Rp53,81 miliar. (sfr)