ANALISIS

Dirut Baru Garuda dan Rapor Merah di Kasus Munir Serta Harley

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Sabtu, 25/01/2020 10:55 WIB
Dirut Baru Garuda dan Rapor Merah di Kasus Munir Serta Harley Serangkaian pekerjaan rumah telah menanti Irfan Setiaputra yang baru saja didapuk menjadi pucuk pimpinan Garuda Indonesia. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjuk Irfan Setiaputra sebagai direktur utama menggantikan Ari Askhara yang tersandung kasus dugaan penyelundupan komponen sepeda motor Harley-Davidson.

Setelah menjadi bos baru Garuda, berbagai pekerjaan rumah telah menanti Irvan. Dia sempat bercerita pesan dari Menteri BUMN Erick Thohir sebelum dirinya duduk di 'kursi panas' tersebut. Erick memberikan tugas kepadanya untuk membuat perseroan penerbangan pelat merah itu menghasilkan keuntungan lebih.

"Saya diskusinya (dengan Erick) selain diberesin (Garuda) segala macem, tolong dibikin Garuda jadi menjadi fit, profitable," kata Irvan saat dihubungi lewat sambungan telepon, Rabu (22/1).


Irvan menjelaskan inti lainnya dari pesan Erick adalah tugas untuk membereskan masalah yang selama ini melilit Garuda. Dari harga tiket yang mahal hingga menjaga kekompakan perusahaan pelat merah tersebut.


Jika dirunut kembali, tidak sedikit permasalahan yang membelit Garuda. Dari kasus Munir yang masih 'abu-abu, tiket mahal, polesan laporan keuangan hingga skandal penyelundupan motor Harley Davidson baru-baru ini.

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai sebagai perusahaan terbuka, reputasi dan kredibilitas menjadi salah satu hal utama yang harus Garuda perbaiki dalam jangka pendek.

"Jika reputasi dan kredibilitas sudah kembali. Kepercayaan investor akan tumbuh," ujarnya kepada CNNIndonesia, Kamis (23/1).

Secara kongkret, Toto memaparkan direksi baru harus membuat rencana bisnis dalam internal, baik dalam membenahi tata kelola hingga citra perusahaan. Rencana bisnis tersebut ada baiknya diberikan tenggat waktu sehingga jika ada hasilnya bisa terlihat dan memberikan sentimen positif.
PR Berat Irfan Setiaputra Permak Garuda Agar Terbang TinggiIrfan Setiaputra, Dirut Garuda Indonesia. (CNN Indonesia/Fajrian)
"Jika sudah maka akan muncul trust. Dari internal sendiri harus ada trust," ungkapnya.

Selain itu, dalam jangka menengah, dirut baru harus fokus pada pembenahan kinerja dan fundamental. Baik dari pendapatan hingga penumpang.

Toto mencontohkan dari sisi pembenahan pendapatan bisa diversifikasi dari logistik hingga lini bisnis lain.

"Potensi ini besar tapi belum digarap," tegas Toto.

Selain itu, dari sisi penumpang bagaimana membawa dari mancanegara ke Indonesia. Menurut Toto, jika selama ini ada rute gemuk seperti di Asia Timur sebagai basis wisatawan Indonesia maka bisa dimaksimalkan.

Salah satu caranya dengan mengurangi rute ke Eropa atau rute yang tingkat okupansinya rendah.

"Jadi rute dipindah ke wilayah yang lebih 'gemuk' pasarnya, seperti China, Korea dan Jepang," papar Toto.

Dia pun melihat direksi seharusnya memperhatikan pengelolaan cost, seperti pemicu terbesar selain bahan bakar. Toto melihat armada yang terlalu banyak ditambah dengan pengadaan terus menerus, padahal tingkat okupansi rendah.

"Transformasi bisa dilakukan. Dari jangka menengah, pendapatan bisa dilakukan paralel. Jika semua sejalan maka Garuda akan back on the track dan menjadi lebih baik," ujarnya.

Laporan Keuangan Merah

Sejalan dengan Toto, Pengamat BUMN sekaligus peneliti senior di Visi Integritas Danang Widoyoko mengungkap sederet pekerjaan rumah Garuda Indonesia.

Danang menekankan laporan keuangan yang masih merah bukanlah hal yang mudah. Sehingga perusahaan pelat merah tersebut bukan hanya meningkatkan kinerja tetapi harus renegosiasi kontrak.

"Selain itu, tudingan kartel pesawat. Masyarakat juga terganggu. Industri wisata juga terkena dampak. Itu tidak adil dan harus diseimbangkan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Danang menambahkan Garuda harus membangun kultur integritas di dalam internal. Pasalnya, skandal laporan keuangan menunjukkan good governance tidak berjalan.

"Kultur integritas harus diperkuat," tegasnya.

Danang pun menekankan independensi Garuda. Pasalnya, hingga saat ini kasus Munir belum selesai, perkara yang lebih dari satu dekade lalu menyeret Garuda Indonesia.

Indra Setiawan, Direktur Utama Garuda Indonesia periode 2002-2005 terjerat kasus pembunuhan aktivis Munir. Indra bahkan sudah selesai menjalani vonis hukum penjara selama 1,5 tahun.

Ia mendapat hukuman itu karena dianggap menjadi pihak yang memberi bantuan kepada Pollycarpus, pembunuh aktivis HAM Munir. Bantuan itu sengaja diberikan dengan menugaskan Pollycarpus menjadi staf perbantuan perusahaan dalam penerbangan bersama Munir. Munir meninggal di dalam pesawat Garuda GA-974 ketika terbang ke Amsterdam pada 7 September 2004 lalu.

"Garuda itu rawan praktik seperti itu. Brompton dan penyelundupan yang sangat pede. Itu ada masalah independensi," ungkapnya.

Danang menjelaskan beberapa hal di atas merupakan pekerjaan rumah direktu baru Garuda.

"Bagaimana membuat keputusan berdasarkan independensi dan tanpa intervensi dari pihak lain. Bukan hanya laporan keuangan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(age/asa)