Data yang diperoleh Jokowi menyebut literasi keuangan Indonesia naik cukup signifikan dalam tiga tahun, yaitu dari 29,7 persen pada 2016 menjadi 38,03 persen pada 2019. Sementara, inklusinya meningkat dari 67,8 persen 2016 menjadi 76,19 persen pada 2019 lalu.
Kendati demikian, pencapaian literasi dan inklusi keuangan RI masih di bawah negara tetangga. Ambil contoh, inklusi keuangan di Singapura yang sudah tembus 98 persen, Malaysia 85 persen, dan Thailand 82 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi juga memerintahkan menteri terkait, OJK, termasuk BI untuk mengembangkan keuangan digital berbasis internet. Hal tersebut, kata Jokowi, amat penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan.
"Hal ini juga didukung oleh tingkat penetrasi pengguna internet yang relatif tinggi, yaitu 64,8 persen atau kurang lebih sekarang 170 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia," jelasnya.
Selanjutnya, sambung Jokowi, hal lainnya yang harus dilakukan untuk mengerek tingkat literasi dan inklusi keuangan adalah pendalaman sektor jasa keuangan. Pendalaman ini dilakukan di seluruh sektor, yakni perbankan, asuransi, pasar modal, pegadaian, hingga dana pensiun (dapen).
"Lalu perlindungan terhadap konsumen sehingga masyarakat dengan mudah, aman, dan nyaman bisa mengakses keuangan formal," pungkas Jokowi.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)