Hal ini diungkapkan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) perusahaan dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Rapat digelar di Gedung DPR/MPR pada Selasa (28/1).
Program biodiesel sendiri sengaja diterapkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menekan impor minyak dan gas guna memperbaiki defisit neraca perdagangan. Selain itu, juga dilaksanakan dalam rangka menyerap produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Krakatau Steel Restrukturisasi Utang Rp30 T |
Atas hal ini, bos baru PLN itu menilai perlu kajian lebih lanjut dalam penggunaan B100 ke depan. Kajian juga diperlukan dalam merancang mesin baru pada PLTD agar bisa menggunakan campuran CPO dalam operasional pembangkit kelistrikan.
"Sebaiknya penggunaan CPO ini diterapkan pada mesin diesel yang didesain untuk menggunakan bahan bakar nabati," ungkapnya.
"Ada peningkatan penggunaan B20 dan B30 di 2019 sebesar 1,3 kali dibandingkan 2018," katanya.
Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan penggunaan B30 pada tahun ini bisa menghemat devisa sekitar US$5,13 miliar atau setara Rp74,93 triliun. Proyeksi ini terlihat dari realisasi penghematan devisa mencapai US$3,54 miliar atau sekitar Rp51,73 triliun pada pelaksanaan program B20 pada 2019.
Sementara data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) memperkirakan penggunaan B30 bisa menyerap 9,6 juta kiloliter CPO pada tahun ini. Angka ini meningkat dari penyerapan CPO sebesar 6 juta kiloliter melalui program B20 pada 2019.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)