"Target sama Rp2 triliun. Sama seperti sebelumnya," ucap Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman, Rabu (29/1).
SBR ini, kata Luky, bersifat non tradeable. Artinya, tidak dapat ditransaksikan di pasar sekunder. Sebaliknya, tradeable merupakan instrumen yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunga yang ditetapkan oleh pemerintah bersifat floating with the floor. Artinya, jika bunga acuan BI naik, maka pemerintah akan menyesuaikan imbal hasil yang diberikan kepada investor.
Namun, tingkat imbal hasil tak akan turun meski BI memangkas bunga acuan dalam waktu mendatang. Dengan demikian, bunga yang dikantongi investor tak akan di bawah 6,3 persen per tahun meski bunga acuan BI berubah.
Proses pemesanan pembelian SBR009 secara online dilakukan melalui empat tahap, yaitu registrasi, pemesanan, pembayaran, dan setelmen. Investor bisa membeli melalui 24 mitra distribusi.
Mitra distribusi tersebut, antara lain BCA, Bank Mandiri, BNI, Bank Permata, BRI, BTN, Bank Maybank Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank OCBC NISP, Bank Panin, Bank DBS, Bank HSBC, Bank UOB, Bank Commonwealth, Bank Danamon.
Kemudian, perusahaan efek melalui Trimegah Sekuritas Indonesia, Danareksa Sekuritas, Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Bareksa Portal Investasi, Star Mercato Capitale (Tanamduit), Nusantara Sejahtera Investama (Invisee).
Termasuk juga dua perusahaan finansial teknologi (fintech), yakni Investree Radhika Jaya dan Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku).
[Gambas:Video CNN]
(aud/age)