Pertamina Produksi B100 Sepenuhnya pada 2024

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 20:04 WIB
Pertamina Produksi B100 Sepenuhnya pada 2024 Pertamina menargetkan dapat memproduksi B100 sepenuhnya pada 2024. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) menargetkan produksi B100 sepenuhnya dilaksanakan pada 2024. Rencana tersebut akan diimplementasikan penuh pertama kali di Kilang Plaju, Sumatera Selatan.

Sebelumnya, B100 merupakan produk dari bahan turunan minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) yakni Refine Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Direktur Utama Nicke Widyawati mengungkapkan perseroan menyiapkan tiga tahap dalam strategi memproduksi B100 itu.


Pertama, proses co-processing yaitu mencampur produk turunan atau olahan dari CPO yang menjadi produk yang namanya RBDPO, dan langsung diinjeksi ke dalam kilang di Plaju.

"Ini sudah dilaksanakan sejak dua tahun lalu, dan hari ini secara kapasitas sudah bisa mencampur 20 persen. Diinjeksi langsung, ini sebetulnya co-processing dan adalah pertama di dunia," kata Nicke saat rapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (29/1).

Kedua, lanjut Nicke, adalah dengan memproses langsung CPO di kilang perseroan secara mandiri (standalone).

Menurut Nicke, standalone adalah upaya memproses langsung CPO di dalam kilang, yang selanjutnya akan memproduksi 100 persen biodiesel dari CPO tersebut.

Dalam implementasinya, Pertamina menggandeng Universal Oil Products (UOP) yang merupakan perusahaan multinasional yang mengembangkan dan mengirimkan teknologi ke penyulingan minyak bumi, pemrosesan gas, produksi petrokimia, dan industri manufaktur besar.

"Ini sudah terbukti, dilakukan di Milan, dan di AS, teknologi yang digunakan adalah dari UOP," ucapnya.

Tahap terakhir, adalah target jangka pendek untuk melakukan pembenahan (revamping) dari peralatan Kilang Pertamina di Cilacap. Rencananya produksi pertama B100 akan dilakukan di kilang tersebut pada 2022.

"Ini kami sebut conversion. Ini akan bisa menghasilkan B100. Jadi, nanti B100 yang bisa dihasilkan 300 ribu ton per tahun pada tahun 2022," jelas Nicke.

Nicke menjelaskan bahwa biodiesel hanya dapat diimplementasikan sebesar 30 persen untuk memproduksi B30. Namun, untuk memproduksi B40 dan B50, dibutuhkan campuran Hydrotrating Virgin Oil (HVO) yang didapat dari B100 tersebut.

"Secara teknis biodiesel hanya bisa digunakan 30 persen saja, mengingat kualitas atau water content (kadar air) yang dimiliki oleh biodiesel begitu juga glycerine nya itu masih tinggi. Jadi kalau mau (membuat) B50, (dibutuhkan) 30 persen, fame (biodiesel) dan 20 persen-nya HVO, ini aman secara teknis," pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi merencanakan program B30 agar diluncurkan pada 20 Desember 2019 dan diterapkan mulai 1 Januari 2020.

B30 merupakan program pencampuran CPO sebanyak 30 persen ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar.

Program ini merupakan cara pemerintah untuk menekan tingginya impor minyak. Sebab, impor minyak menjadi kontributor utama dalam pembengkakan defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Selain itu, program ini diharapkan mampu menjadi energi baru terbarukan bagi pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia. Tak ketinggalan, program ini juga membantu penyerapan produksi CPO yang tinggi di dalam negeri.

[Gambas:Video CNN]


(ara/sfr)