"Begitu infrastruktur selesai, tak geser anggaran infrastruktur masuk ke sini (riset). Kita harus mempersiapkan ini untuk masa depan bangsa," ujar Jokowi, Kamis (30/1).
Pun demikian, Jokowi menyelipkan pesan kepada Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro untuk mengkonsolidasikan seluruh anggaran riset untuk pengembangan riset. Sehingga, riset bisa mendukung program hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih terkait riset, Jokowi juga meminta Bambang melakukan konsolidasi dari berbagai pihak. Ia mengimbau agar Bambang tidak hanya mengonsolidasikan 329 unit riset milik K/L, tetapi juga meningkatkan peran swasta.
"Kami bisa berikan insentif kepada swasta, bisa lewat super deduction tax. Apalagi saya lihat di Korea Selatan, periset itu bekerja di perusahaan swasta," ungkapnya.
Imbasnya, adopsi inovasi di Indonesia terbilang rendah. Hal ini terlihat dari skala Innovation Index, yakni 29,72 dari rentang 0-100. Ini menempatkan Indonesia di posisi ke 83 dari 129 negara.
"Ini disebabkan masih rendahnya belanja litbang (penelitian dan pengembangan) terhadap PDB, rendahnya jumlah paten, dan rendahnya publikasi sains tingkat global," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)