Luhut Sebut Taipan Australia Minat Bangun PLTA di Kalimantan

CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 14:35 WIB
Menko Luhut menyatakan pengusaha Australia Andrew Forrest berminat investasi pada PLTA berkapasitas 10.000 MW di Kalimantan. Menko Luhut menyebut pengusaha Australia Andrew Forrest berminat berinvestasi PLTA di Kalimantan. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan investor asal Australia, Andrew Forrest bakal menanamkan investasi ke Indonesia. Hal ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan pemerintah dengan sejumlah investor di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss belum lama ini.

Luhut mengungkapkan investor Australia itu berminat untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kalimantan. Awalnya, Forrest hanya berniat membangun PLTA dengan kapasitas 2.000 megawatt (MW), tapi dalam pembicaraan terakhir dinaikkan menjadi 10.000 MW.

"Tadi minta 10.000 MW. Jadi nanti membangunnya bekerja sama dengan pihak lain," ucap Luhut, Kamis (30/1).


Nantinya, sambung Luhut, bakal ada studi terlebih dahulu mengenai pembangunan PLTA di Kalimantan. Namun, ia masih belum bisa memberikan detail kapan rencana investasi itu akan mulai diproses.

"Nanti akan ada studi detail dulu untuk menghasilkan angka yang tepat," terang dia.

Jika ini terealisasi, maka akan menambah aliran investasi dari luar negeri atau penanaman modal asing (PMA) pada 2020.

Sebagai catatan, data Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) menunjukkan total PMA sepanjang 2019 sebesar Rp423,1 triliun atau 87,5 persen dari target Rp483,7 triliun. Realisasi ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp392,7 triliun.


Sementara, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp386,5 triliun atau 125,4 persen dari Rp308,3 triliun. Angka ini juga meningkat dari tahun lalu Rp328,6 triliun.

Secara keseluruhan, investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp809,6 triliun sepanjang 2019. Realisasi itu meningkat Rp88,3 triliun atau 12,24 persen dari sebelumnya Rp721,3 triliun pada 2018.

[Gambas:Video CNN]

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK